Kamis, 29 Januari 2026
Mrk 4: 21-25
“O Lumen”
Teduh dlm temaram senja,
Mencipta api bernyala,
Berbagi dalam cahaya,
Menerangi dalam cara.
Fajar menebar tawa,
Bekerja dalam sukacita,
Memeluk tiap duka,
Titian hari kian bermakna
Biarkan malam bercerita,
Saat merangkai cahaya.
Jiwa syukur tebas luka.
Menenun kisah pewarta.
Menurut St. Thomas Aquinas, sinar atau cahaya adalah unsur keindahan (Claritas) dalam Summa Theologiae ditegaskan bahwa benda yang indah memiliki clarita atau kejernihan atau cahaya. Sinar atau cahaya bukan sekadar fenomena fisik melainkan simbol ontologis akan kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari yang ilahi.Seperti dalam Injil hari ini Yesus bersabda:
“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya, karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai,kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil”.
Sabda Yesus hari ini sangat tegas, cara kita mendengar menjadi penentu style, gaya hidup dan kualitas hidup kita. Bahkan kepemilikan, atau kelimpahan hidup bisa dipengaruhi juga oleh cara kita mendengar. Mengapa kata mendengar menjadi sangat dasyat ? Siapa dan apa yang perlu didengar? Jelas sekali apa dan siapa yang didengar adalah Allah yang mempribadi dari Yesus. Kata cara mendengar nampaknya mau menunjuk sebuah bentuk relasi yang khusus.
Ketika bentuk relasi itu dengan Tuhan, maka buah dari ketekunannya untuk mendengarkan membuat pribadinya bercahaya atau menjadi cahaya ‘lumen’ cahaya yang mengambil wujud memberi warna kebaikan dan keindahan kepada siapapun dan dalam situasi apapun seperti filosofi St. Thomas Aquinas. Sikap mendengarkan membuat orang matang hidup dalam Roh hingga hasilnya senantiasa tidak jauh dari buah buah Roh yakni menyinari hati seseorang untuk berbuat : Kasih, sukacita, damai sejahtera, kelemahlembutan, kesabaran, penguasaan diri, dll. Dan buah ini biasanya meluber tidak bisa ditahan atau ditutupi. Seturut kata bijak jangan menahan kebaikan bagi orang yang berhak menerimanya. Ketika kita berbuat kebaikan, sejatinya kita tak pernah kehilangan apapun tetapi justru membuka kran lebih lebar bagi rahmat Allah. Dan kepadanya kita akan berkelimpahan, minimal jika tidak, setidaknya kita masih memiliki rasa syukur dalam hidup.Sebaliknya jika kita menutup relasi, kurang punya kepedulian untuk mendegarkan Tuhan, maka sama saja kita tak punya cahaya yang bisa menyinari hidup, dan setidaknya rahmat Allah tertutup dan semua yang seakan milik kita diambil dari pada kita, hingga untuk bersyukurpun menjadi amat sulit. Semoga dengan Sabda hari ini kita makin rela menyediakan waktu, ruang batin, telinga hati, mata cinta, cahaya budi untuk mendengarkan Tuhan dalam keheningan. Hingga kita boleh menjadi cahaya yang menyinari hidup sekitar kita, meski dalam skala sesederhanan apapun sanggup menebarkan kebaikan. Karena semakin kebaikan kita tebar, kita tak kehilangan apapun sebaliknya Tuhan yang melipat gandakan rahmat, karena Dia yang bekerja dalam semua kebaikan kita.
Contemplating
Marilah heningkan jiwa, raga, rasa dalam keheningan agar kita makin dalam mendengarkan Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka mendengar Tuhan dalam menanggapi setiap realitas kehidupan yang makin bising.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin peka mendengar suara Allah dalam batin terdalam hingga menggerakkan kita untuk makin berkembang dalam kebaikan.
Praying
Allah Bapa, ajarilah kami sikap mendengarkan, hingga buahnya menyinari hati kami untuk mengembangkan kebaikan untuk mewujudkan buah-buah Roh sebagai ciri kepribadian kami. Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

