Senin, 8 Juni 2026
Mat 5 : 1-12
“Tak sekedar mindfulness”
Berhembus di ruang keniscayaan,
Mencari kepenuhan dlm kepapan,
Bergegas wujudkan harapan,
Gapai ilusi kebahagiaan.
Berkubang di ruang nyata,
Menangis di sela bahagia,
Sukacita dlm hidup nestapa,
Kebahagiaan yg sejati tercipta.
Di jaman yg makin maju orientasi hidup bahagia makin disadari, dikejar dan ingin dipenuhi oleh setiap orang. Bahkan kesuksesan sebuah bangsa bisa diukur juga dari tingkat kebahagiaan warganya. Banyak upaya manusia modern menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan soal terpenuhinya hal-hal duniawi, tetapi sebuah fokus kesadaran yang dibangun dari kedalaman hati dan cinta, maka gerakan “mindfulness” menjadi sangat laku keras dan diminati oleh orang yang ingin menemukan kebahagiaan hidup di tengah padatnya rutinitas pola hidup modern. Padahal kebahagiaan sejati juga bukan sekedar membangun pola mindfulness. Tetapi ukuran kebahagiaan sejati adalah representatif dari sabda bahagia Yesus yakni :
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan… “.
Para murid Yesus memberikan model kepada kita bahwa mereka disebut berbahagia pertama tama karena telah mengambil bagian pada kemiskinan dan penderitaan dalam perjuangan mengikuti Kristus. Dan kehausan mereka akan kebenaran dialami dalam perjumpaan dengan Tuhan yang dirindukannya. Semoga dengan inspirasi sabda hari ini kitapun mampu mengusahakan kebahagiaan bukan sekedar ‘mindfulness’ semata, tetapi hidup yang disemangati oleh semangat Yesus yang terfokus pada terwujudnya kehendak Bapa-Nya. Sabda bahagia adalah tawaran kebahagiaan yang kontras dan cenderung ekstrem dengan era millenial yang hidup dengan kemudahan dan kenyamanan. Banyak kebahagiaan instan bisa dilayani dan didapat tanpa harus berlelah lelah apalagi menderita untuk mendapatkannya. Mentalitas usapan ‘dua jempol’ dengan pola hidup serba online mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh dan mengadakan yang tidak memiliki. Namun disatu sisi kenyamanan hidup yang mudah di dapat seringkali memudahkan munculnya “kegalauan” dan kekosongan hidup. Banyak orang kehilangan orientasi hidup dan kesadaran, sehingga hidup seperti robot. Sabda Bahagia hadir memberikan “oase kesadaran baru”. Bahwa kalau orang miskin, orang berduka cita, orang yang lapar dan haus akan kebenaranpun malah dipuji bahagia oleh Yesus, dan beroleh kerajaan Surga, maka nilai kebahagiaan menjadi sangat relatif. Kebagaiaan yang sejati pada akhirnya bukan “to have” apa yang bisa saya miliki oleh seseorang, tetapi “to be” proses menjadi bahagia yang sejati, yakni hidup yang dikehendaki Allah. Yakni mengambil bagian kedalaman hidup Tuhan sendiri. Yang miskin artinya mengandalkan hidup pertama tama karena kemurahan hati Allah. Letaknya tentu bukan soal kaya atau miskin tetapi soal “sikap hati” orang kayapun tetap bisa dipuji bahagia jika mampu membangun kesadaran batin “mindfulness” dengan hidup rendah hati dan mengandalkan kuasa Allah. Janganlah ciut hatimu, manakala hidupmu mengalami banyak berkekurangan, lapar dan haus akan makna hidup, sebab dari situlah kita tengah ditarik dalam jangkauan Tuhan untuk makin mengandalkanNya dan hidup penuh hikmat. Bersabarlah mengenali rancanganNya yang agung.
Contemplating
Mari kita heningkan seluruh diri kita, dan menimba kebahagiaan sejati pada Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar berani mengusahakan kebahagiaan dengan mengikuti kehendak Allah.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah memperlihatkan pertumbuhan menjadi bahagia karena hidup dalam semangat Kristus.
Praying
Allah Bapa di surga, kami bersyukur Engkau telah menumbuhkan kesadaran untuk membangun kebahagiaan hidup kami seturut dengan kehendak-Mu demi keselamatan kami. Dalam Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

