SECERCAH HENING
Kamis, 24 September 2026
Luk 9: 7-9
” Afikasi Diri”
Terombang ambing badai,
Mata takabur tak bisa santai,
Mengejar yg tak bisa digapai,
Ringkih tak bisa peluk damai.
Suara kebenaran menepi,
Kegalauan menguasai sepi,
Hati yg suci terbuai oleh ambisi,
Mati hingga senja menepi.
St. Thomas Aquinas pernah menyatakan bahwa : “Setiap dosa adalah kurangnya cinta terhadap Tuhan”. Memudarnya Cinta pada Tuhan membuat seseorang kurang memiliki rasa akan Tuhan dan manifestasinya. Ia cenderung menjauh dari kuasa Tuhan sendiri sehingga mudah direngkuh oleh kuasa dosa. Hidup menjadi galau dan tidak damai banyak konflik yang akan menyertainya.Namun daya untuk mengatasi ikut sirna seiring dengan kegalauannya. Akhirnya ia kurang memiliki keyakinan untuk mencapai tujuan hidup dengan bahagia. Termasuk tidak tahan menghadapi konflik-konflik yang justru bisa mematangkan jati diri, jika diatasi dengan kedamaian syukur dan kerendahan hati. Afikasi diri yaitu keyakinan yang kuat untuk mencapai satu tujuan yang jelas dengan memberdayakan potensi diri. Potensi yang kurang diberi tempat untuk mengekplorasi, akan mudah membuat kita cemas dan hampa. Realitas macam ini ternyata juga sudah ada dan melanda mentalitas dan hati Herodes seperti dikisahkan dalan Injil hari ini:
Herodes, raja wilayah, mendengar segala sesuatu yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, dan berkata kepada orang banyak:
“Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapakah gerangan Dia ini, yang khabarnya melakukan hal-hal demikian? “. Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.
Herodes selalu galau atau cemas ketika mendengar ada orang yang lebih berpengaruh dibanding dirinya. Ia mau bertemu dengan Yesus bukan karena mencintai Yesus tetapi karena takut jabatannya sebagai raja terancam.Meski raja, ia tidak sanggup menata hati dan rumah jiwanya sendiri. Afikasi dirinya rendah hingga lebih banyak dikuasai oleh kegalauannya sendiri dan diombang ambing emosinya yang hampa dan kesepian. Kematian Yohanes yang dipenggal kepalanya oleh serdadu atas suruhan Herodes adalah buah dari kehidupan yang hampa, galau, kosong tanpa cinta, hingga tidak mampu membuat keputusan atau disposisi batin yg tepat. Ia tidak saja diombang ambing oleh kebencian isteri barunya terhadap Yohanes yang menawarkan jalan hidup yang benar, tetapi juga di galaukan oleh kegembiraan tarian si anak tiri yang menjadi alat iblis untuk membunuh Kebenaran. Ketika Yesus hadir dalam wujud yang lain iapun galau tak berkesudahan karena hidup batinnya tidak diisi oleh afikasi kehadiran Allah dalam dirinya. Suara kebenaran yang dibunuh dalam batinnya, menjauhkan dirinya dari kepenuhan hidup yang bersumber dari Allah. Kecemasan atau rasa galau sering menjadi tanda hampanya batin kita dari pengaruh Allah. Maka hidup di jaman yang penuh kegalauan ini, marilah kita belajar dari kegagalan Herodes yang kerajaannya penuh dengan budaya kematian bukan karena ia kalah perang tetapi karena Ia menang dengan membunuh suara Kebenaran yang lembut di dasar batinnya. Kehancurannya dimulai dari kesombongannya tidak mau membiarkan Allah merajai hatinya, hingga yang meraja adalah kemanusiaannya yang fana yang jauh dari kebijaksanaan hidup dan keselamatan. Semoga melalui hidup harian kita, pekerjaan kita, keputusan-keputusan kita, kegembiraan kita, bahkan penderitaan kita, kita tetap mampu mengandalkan bimbingan Allah melalui suara kebenaran yang lembut di dasar batin kita. Semoga kita makin terampil mengisi kepenuhan batin dengan kehadiran Allah, melalui hidup yang berpijak dalam jalan kebenaran yang ditunjukkan Yesus. Hingga hidup kita tak lagi dikuasi oleh kecemasan, tetapi sebaliknya sukacita, damai sejahtera,kelemah lembutan dan penguasan diri dan sikap syukur sebagai wajah afikasi diri kita .
Contemplating
Nikmati setiap tarikan dan hembusan nafas sebagai kesempatan menimba kekuatan Allah.
Actuating
Membiasakan diri mengikuti suara batin terdalam yg menghasilkan keputusan yang benar dan mendamaikan meski sulit prosesnya.
Reflecting
Apakah yang saya syukuri dan pelajari dari setiap kegalauan dan kedamaian yang saya alami hari ini.
Praying
Allah Bapa, berilah kami hati seperti hatimu, agar diri kami makin terpikat untuk mengandalkan kuasa-Mu dalam perjuangan hidup kami. Karena Engkaulah yg bekerja dalam segala sesuatu. Karena Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

