Selasa, 27 Januari 2026
Mrk 3: 31-35
“Warna Relasi”
Hadir tuk saling mengada,
Terpesona oleh kelembutan jiwa,
Menyapa ruang hampa,
Tervibrasi oleh pelukan Sabda
Hari ini secara fakultatif Gereja memperingati St. Angela Merici pendiri ordo St. Ursula pada 1535 di Bresci, Italia, yang mendedikasikan hidup untuk anak perempuan dan pembinaan iman. Sebagai pelopor ia mendirikan ordo pengajaran wanita pertama di Gereja, dan menekankan semangat pelayanan (Serviam) yang berarti “saya mau mengabdi”. Ia wafat 27 Januari 1540 di Brescia dan dikanonisasi oleh Paus Pius VII pada 1807. Warisan pelayanan iman untuk kaum perempuan menjadi sebuah keutamaan yang juga dipuji oleh Yesus dalam sabda hari ini. Yesus membuat sebuah ‘statement’ yang memberi inspirasi dalam memaknai relasi antar pribadi sekaligus cara memandang realitas dari kacamata Sabda atau kehendak Allah.
“Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”.
Sabda ini sebenarnya keras dan bisa melukai hati jika dilihat dari hubungan manusiawi belaka, bagaimana tidak, kehadiran ibu-Nya dan saudara saudarinya seakan dianggap tidak ada. Dan bahkan bisa dipandang melanggar etika dan sopan santun. Namun yang mau ditekankan bahwa setiap orang beriman diajak untuk membangun persaudaraan antar sesama yang dijiwai oleh buah dari kesungguhan mendengarkan sabda dan melaksanakannya secara nyata. Tidak cukup hanya menjadi pendengar tetapi pelaku sabda. Maka warna relasi persaudaraan antar pribadi dibangun bukan lagi untuk sekedar ada saudara, tetapi relasi yang diwarnai oleh sharing kehidupan yang berlandaskan keinginan untuk mewujudkan sabda berlandaskan iman dalam realitas hidup. Kedekatan yang dibangun oleh inspirasi Sabda akan sungguh mempererat hubungan saudara, sebagai keluarga Allah sendiri. Jika keluarga-keluarga Kristiani mampu membangun warna relasi atas dasar kesanggupan mendengar firman dan perwujudannya makin percaya akan kuasa Allah (iman) maka hubungan kasih akan makin dalam dan sanggup menopang aneka badai kehidupan. Serta dikuatkan untuk melewati setiap derasnya air mata menjadi untaian senyuman bahagia. Inilah wujud Kerajaan Allah yang hadir secara nyata melalui kematangan iman. Maka pernyataan Yesus di atas tidak lagi bermakna penolakan terhadap keberadaan keluarganya, tetapi justru mau memberi makna lebih dalam dari sekedar hubungan darah tetapi hubungan atas dasar iman akan Sabda Allah. Marilah kita warnai relasi kita dengan siapapun atas dasar inspirasi dan buah dari kesediaan kita mendengarkan Firman Allah dan mewujudkannya, hingga hidup yang makin panas ini, bisa diwarnai dengan oase hadirnya sentuhan kesejukkan relasi yang penuh makna. Hati yang mengasihi Allah, membuat mata hatinya selalu melihat Allah yang hadir dalam diri sesama sebagaimana diterangi oleh pengajaran iman St. Angela Merici.
Contemplating
Marilah heningkan jiwa, raga, rasa dalam keheningan agar kita makin dalam mendengarkan Tuhan dan melaksanakan firman-Nya.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka mendengar Tuhan dalam membangun relasi dengan sesama atas dasar kedalaman memaknai sabda.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin peka menjalin relasi dengan sesama atas dasar kasih dan kebenaran.
Praying
Allah Bapa, ajarilah kami agar senantiasa terpikat untuk mendengarkan firman dan melaksanakannya, hingga setiap relasi yang kami bangun sesama kami, membuahkan kematangan, kebahagiaan dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

