Senin, Paskah Ke IV 27 April 2026
Yoh 10 : 11-18
“Karakter Gembala”
Memandang jauh ke depan,
Hidup tuk berpengharapan,
Menemani ditikungan jalan,
Menyembuhkan dlm dekapan.
Mengada di saat yg lain sirna,
Mencintai tanpa batas luka,
Gagal jd moment makin percaya,
Ada tuk menanggung segala.
Ukuran mencintai adalah mencintai tanpa ukuran. Ia akan mampu menggapai derita yang tak tertanggungkan, dan kekuatan cinta membuatnya lebih dari yang ia sanggup melampauinya. Pengajaran Yesus setelah kebangkitan banyak mengulas tentang roti hidup yakni tubuh-Nya sendiri, dan beberapa hari ini mengajak kita belajar lebih dalam tentang karakter gembala yang menyerahkan nyawaNya sendiri untuk keselamatan domba. Seperti dalam Injil hari ini:
“Akulah gembala yg baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya…”
Beberapa kali di sebut kata ‘gembala yang baik’. Gembala sendiri sebenarnya sudah menunjuk pribadi yang melayani dan hidup untuk dombanya namun dengan ditambah kata baik mau menunjukkan sifat dan karakter gembala yang di kehendaki yakni:
- Memberikan nyawa
Nyawa sebagai lambang batas akhir sebuah pengorbanan dan pemberian diri atau totalitas. Sebagai pemberian paling berharga yang tak bisa terukur nilainya. Jika hal itu dilakukan untuk sebuah perlindungan maka yang dilindungi dipandangnya lebih jauh lebih bernilai dari dirinya. Maka siapapun diri kita betapa berharganya di mata Allah. Diri kita sangat bernilai yang dibela sampai mati -matian. Apakah kita peduli sebesar itu ? Minimal untuk keselamatan jiwa kita ??. - Menanggung resiko
Menjadi Gembala selalu hidup di padang belantara kehidupan. Banyak resiko alam badai hidup, binatang buas dan aneka kebuasan lainnya, karakter gembala yang baik, tidak lari dari tanggung jawab jika ada kesulitan. Tetapi bertahan dan berusaha sebesar yang ia tanggung untuk melindungi domba yang menjadi tanggungjawabnya. Apakah kita sanggup menanggung resiko atas hidup dan iman, pilihan pilihan sikap kita dengan “madhep, mantep, marep” ? - Menuntun domba lain
Kesanggupan menjadi gembala yang baik ketika melihat domba dari manapun asal dan jenisnya tak ada pilihan lain kecuali memeluk dalam jangkauan perlindungannya agar semua selamat dan aman dalam kehidupannya. Apakah kita sanggup untuk belajar memeluk kehidupan bersama orang lain dari golongan apapun dengan kasih
sebagai teman seperjalanan dalam hidup ?. - Mengalir oleh Kasih
Kematangan seorang gembala yang baik, mengalir dari dan berakar oleh kasih. Kesendiriannya, kesepiannya, luka luka hatinya, air matanya, dijadikan saat yang indah untuk berlabuh lebih dalam pada pelabuhan kasih Allahnya. Sanggupkah kita mendasari hidup pada hubungan yang mendalam dengan Allah ???.
Semoga dengan teladan gembala yang baik ini, kita juga dapat berperan sebagai gembala yang baik melalui hidup kita setiap hari. Apapun peran dalam hidup setiap hari, kita juga dipanggil menjadi gembala yang baik untuk orang orang yg dipercayakan kepada kita. Kita juga dipanggil untuk membina diri menjadi gembala yang baik, yakni menjadi gembala yang berkarakter “Anak domba Allah.” Sehingga hidup kita setiap hari menjadi saat hidup penuh sukacita dalam pelukan hangat Sang Gembala Agung kita.
Contemplating
Marilah kita memperluas ruang keheningan dalam hati kita, untuk mendengar bisikan terdalam gembala Agung kita.
Actuating
Mantapkan sikap batin untuk membiasakan diri makin menjadi pendengar yang baik ditengah kekinian dunia yang gaduh.
Reflecting
Belajar menemukan makna dari keseharianku, telah kujalani sebagai jawaban atas panggilanku?
Praying
Bapa di surga, kami bersyukur boleh mengenali Yesus sebagai gembala yang baik bagi jiwa dan hidup kami. Ajarilah kami peka mendengar suaraNya, agar hidup harian kami menjadi jawaban atas panggilanNya untuk terus kami syukuri. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine, OP

