Mat 22:1-14
“Pakaian pesta = Hidup dalam Kasih”
Memantik diri di ruang hening,
Berselera untuk wening,
Bermandikan hati yg bening,
Hiasi diri dgn senyum tersungging.
Tinggalkan gelimang dosa,
Bermandi riang bersama cahaya,
Menerangi hati yg hampa,
Memilih Ya untuk ikuti Dia.
Dalam perumpamaan Injil hari ini bukan hanya berbicara tentang siapa yang masuk Kerajaan Allah, tetapi tentang bagaimana kita hidup setelah menerima panggilan Allah. Saya sudah menerima begitu banyak undangan dan rahmat dari Tuhan. Apakah kehidupan, pelayanan dan cara saya memperlakukan sesama sudah menjadi ‘pakaian pesta’ yang menunjukkan bahwa saya sungguh menerim undangan Tuhan ?. Sebagaimana Sabda Yesus hari ini :
“Hal Kerajaan surga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hamba-Nya memanggil orang-orang yang telah diundang,tetapi orang -orang itu tidak mau datang. Tetapi ada yang datang tidak mengenakan pakaian pesta.?”…Sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih.
Diundang mengikuti Tuhan dilukiskan dalam banyak kisah sebagai panggilan menghadiri pesta. Untuk memahami pesan Injil hari ini kita lihat dalam 4 tahap: 1)Mendapat undangan atau Allah memanggil. 2) Hadir menanggapi undangan.
3) Rahmat mengubah hidup.
4) Memantaskan diri dengan hidup dalam kasih sebagai pakaian keselamatan. Undangan mengikuti panggilan Tuhan diberikan kepada semua orang tanpa kecuali. Namun Tuhan senantiasa memberi kebebasan setiap orang untuk memilih akan “YA” atau “TIDAK” untuk memenuhi undangan itu. Bentuk pilihan dari kekebasan setiap orang tidak hanya cukup dengan sanggup hadir tetapi bagaimana saat hadir itu sangat menentukan kepantasan boleh dan tidaknya diterima dalam perjamuan. Pakaian pesta rupanya menjadi filter akhir boleh tidaknya kita masuk dalam perjamuan.Pakaian yang dimaksud tentu bukan soal kostum, tetapi pakaian kehidupan yg melekat dalam hidup setiap orang yaitu: Perilaku yg terpuji, sikap yang baik, kebesaran jiwa,kesabaran, kemurahan hati, kelemahlembutan, penguasaan diri, pengampunan,kasih dan integritas diri yang bersumber dari kedekatan dengan Allah. Maka hal ini cocok dengan pepatah “Ajining diri ono ing busono” artinya harga diri seseorang terletak pada busana yang dikenakan.Tetapi untuk menjelaskan perikop ini, busana yang dimaksud bukan kostum fisik tetapi “busana jiwa” .Bagamana kita mendadani diri dan hidup kita, bukan kamuflase pada pakaian fisik tetapi pakaian rohani dan kehidupan yang benar, yang membuat kita layak masuk dan diterima dalam kerajaan surga. Maka inspirasi dari sabda hari ini, kita diajak untuk terus memantaskan diri di hadapan Tuhan dengan pakaian kehidupan yang benar dihadapan Tuhan dan penuh kasih kepada sesama. Jangan ragu dan jangan galau, jika tidak tampan dan tidak cantik secara fisik, tetapi takutlah jika hatimu tidak memiliki selera rohani dan semangat mengasihi sebagai busana kehidupan yang berkenan bagi Tuhan.
Contemplating
Marilah kita menghening batin kita untuk mengenali gerak Roh dan kehendak Tuhan dari kedalaman hati.
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan kekuatan dari energi yg ditimba dari Allah agar dadanan kehidupan kita makin layak masuk dalam kerajaan surga.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin mendadani diri dengan cara hidup yg benar.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg peka, dalam menjalani hidup ywng benar seturut dengan buah-buah Roh.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
