SECERCAH HENING “Instaurare Omnia in Christo”

Peringatan St. Pius X

Mat 22:34-40

“Instaurare Omnia in Christo”

Terpana di lorong hampa,
Tertatih lelah memeluk sesama,
Mendampa pelukan Cinta,
Melayani Dia hingga batas rasa.

Memeluk rapuh dengan Cinta,
Hingga peluh berbuah makna,
Tiap inci memberi daya,
Melayani Dia dengan segenap rasa.

“Instaurare omnia in Christo” artinya Membaharui segala sesuatu dalam Kristus. Merupakan motto hidup St. Pius X (Paus) yang kita peringati hari ini. Ajaran imannya yang kuat mendorong kita untuk menghidupi bahwa iman harus terus diperdalam, dimana kasih Kristus harus menjadi pusat dan penuntun kehidupan. Maka kematangan seseorang dalam mengasihi Tuhannya membuatnya matang juga dalam menghargai,dan mengasihi sesama dan kehidupan. Dan itulah semangat Injil yg di wartakan Yesus melalui salib-Nya. Seperti dalam bacaan Injil hari ini.
Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus :”Guru,hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? Jawab Yesus :

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Yesus secara tidak langsung mau mengajarkan bahwa kedalaman kita mengasihi Tuhan membuat kita, tidak mungkin tidak buahnya adalah mencintai diri dan sesama. Kekuatan atau energi untuk bisa mencintai berasal dari aliran energi yg dipancarkan oleh daya Roh yang ditimba dari hubungan dekat dengan Tuhan. Sebagaimana St. Pius X mengajarkanya melalui penghayatan yang hidup atas ekaristi sebagai tanya kasih Allah. Karena Allah jati dirinya adalah Kasih. Tanpa daya dari Allah kasih kita sangat limited, mungkin kita hanya sanggup mengasihi orang yang baik dengan kita. Namun karena daya kasih itu bersumber dari Allah sendiri maka energinya mampu melampaui daya kemanusiaan kita dengan kemampuan mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita dengan kasih yang memerdekakan “true love”. Dalam hal ini saya ingat pepatah Erich Fromm yg menggambarkan kematangan cinta sejati akan terlukis dalam bagaimana motivasi seseorang mencintai. Jika “I love you because I need you” adalah gambaran cinta yg tak matang. Sebaliknya motivasi mencintai yg sejati atau “true love” terungkap dalam kata “I need you because I love you”. Yang kedua ini seseorang mencintai karena sebuah kebutuhan yg meluap harus dialirkan yg identik dengan daya kebaikan yg terpancar penuh dan meluber dari kasih Allah yg menguasai seseorang. Ketidaksanggupan seseorang utk mengasihi orang lain, banyak disebabkan oleh sulitnya seseorang mengalami kasih Allah yg nyata dan riil dalam pergumulan hidupnya, hingga iapun menjadi sulit mengasihi dan mengampuni diri sendiri. Apakah kita termasuk yg butuh meluapkan kasih yg telah penuh? Ataukah kita masih terus haus utk dicintai sehingga luapannya justru melukai sesama? Karena kita belum penuh teraliri daya energi kasih dari Allah sendiri. Semoga terinspirasi energi kasih dari Allah lewat sabda hari ini, dan juga teladan hidup St. Pius X, membuat kita makin matang dalam mencintai Tuhan dan meluber utk mudah mencintai sesama kita dengan gaya Allah mencintai kita.

Contemplating
Marilah masuk dalam keheningan, bayangkan dan rasakan kasih Allah hadir memeluk kita dalam kepenuhan dan kedamaian.

Actuating
Membiasakan diri hidup dengan kekuatan dari energi yg ditimba dalam hubungan kasih dari Allah .

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin mengalami dicintai Allah?

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg peka, dalam menjalani hidup yang benar seturut dengan buah-buah Roh.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *