Afikasi Diri

SECERCAH HENING
Kamis, 26 September 2024

Luk 9: 7-9

Terombang ambing riuhnya badai,
Mata takabur tak bisa santai,
Mengejar yg tak bisa digapai,
Ringkih tak bisa peluk damai.

Suara kebenaran menepi,
Kegalauan menguasai ruang sepi,
Hati yg suci terbuai oleh ambisi,
Mati hingga senja menepi.

Hidup di era digital seperti saat ini, hidup kita makin dipermudah. Apa yg tempo dulu untuk mencapai sesuatu harus berusaha keras, dengan proses yg panjang, saat ini cukup memencet nomor-nomor kontak semua beres, cepat dan murah. Semua dilakukan demi kenyamanan dan kebahagiaan hidup kita, sebagai hasil kecanggihan teknologi. Namun kadangkala kemudahan itu ternyata membuat mental kita ‘tidak tahan proses’, dan kita cenderung mencari kemudahan dan jalan pintas untuk mewujudkan keinginan kita. Kita juga sering kurang memiliki keyakinan untuk mencapai tujuan hidup dengan bahagia. Termasuk tidak tahan menghadapi konflik-konflik yg justru bisa mematangkan jati diri, jika diatasi dengan kedamaian syukur dan kerendahan hati. Afikasi diri yaitu keyakinan yg kuat untuk mencapai satu tujuan yg jelas dengan memberdayakan potensi diri, kurang kita beri tempat, sehingga kita mudah cemas dan hampa. Realitas macam ini ternyata juga sudah ada dan melanda mentalitas dan hati Herodes seperti dikisahkan dalan Injil hari ini:
Herodes, raja wilayah, mendengar segala sesuatu yg terjadi itu dan iapun merasa cemas, karena kurang mampu mengembangkan potensi kebaikan yang dimiliki sehingga energi negatif yg lebih banyak mengontrol perilakunya.
Maka ia berkata kepada orang banyak:

“Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapakah gerangan Dia ini, yg khabarnya melakukan hal-hal demikian? “. Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

Herodes selalu galau atau cemas ketika mendengar ada orang yg lebih berpengaruh dibanding dirinya. Meski raja ia tidak sanggup menata hati dan rumah jiwanya sendiri. Afikasi dirinya rendah hingga lebih banyak dikuasai oleh kegalauannya sendiri dan diombang ambing emosinya yg hampa. Kematian Yohanes yg dipenggal kepalanya oleh serdadu atas suruhan Herodes adalah buah dari kehidupan yg hampa, galau, kosong dari herodes hingga tidak mampu membuat keputusan atau disposisi batin yg tepat. Ia tidak saja diombang ambing oleh kebencian isteri barunya terhadap Yohanes yg menawarkan jalan hidup yg benar, tetapi juga di galaukan oleh kegembiraan tarian si anak tiri yg menjadi alat iblis untuk membunuh kebenaran. Ketika Yesus hadir dalam wujud yg lain iapun galau tak berkesudahan karena hidup batinnya tidak diisi oleh afikasi kehadiran Allah dalam dirinya. Suara kebenaran yg dibunuh dalam batinnya, menjauhkan dirinya dari kepenuhan hidup yg bersumber dari Allah. Kecemasan atau rasa galau sering menjadi tanda hampanya batin kita dari pengaruh Allah. Maka hidup di jaman yg penuh kegalauan ini, marilah kita belajar dari kegagalan Herodes yg kerajaannya penuh dengan budaya kematian bukan karena ia kalah perang tetapi karena Ia menang dengan membunuh suara kebenaran yg lembut di dasar batinnya. Kehancurannya dimulai dari kesombongannya tidak mau membiarkan Allah merajai hatinya, hingga yg meraja adalah kemanusiaannya yg fana yg jauh dari kebijaksanaan hidup dan keselamatan. Semoga melalui hidup harian kita, pekerjaan kita, keputusan-keputusan kita, kegembiraan kita, bahkan penderitaan kita, kita tetap mampu mengandalkan bimbingan Allah melalui suara kebenaran yg lembut di dasar batin kita. Semoga kita makin terampil mengisi kepenuhan batin dengan kehadiran Allah, melalui hidup yg berpijak dalam jalan kebenaran yg ditunjukkan Yesus. Hingga hidup kita tak lagi dikuasi oleh kecemasan, tetapi sebaliknya sukacita, damai sejahtera,kelemah lembutan dan penguasan diri dan sikap syukur sebagai wajah afikasi diri kita . Jangan galau dan gelisah hatimu, manakala hidup tak sesuai yg kita harapkan. Menepilah sejenak, dengarkan dan peluk hatimu dengan senyum yg lembut. Buka hatimu untuk mengalami kepenuhan akan hadirnya Tuhan. Niscaya hidupmu akan senantiasa damai dan tenang menghadapi kenyataan apapun. Bertumbuhlah dalam afikasi diri yg lembut penuh daya kebaikan, sehingga kita mampu memfibrasi kehadiran Allah yg hidup.

Contemplating
Nikmati setiap tarikan dan hembusan nafas sebagai kesempatan menimba kekuatan Allah.

Actuating
Membiasakan diri mengikuti suara batin terdalam yg menghasilkan keputan yg benar dan mendamaikan meski sulit prosesnya.

Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin berani hidup sesuai dengan suara kebenaran.

Praying
Allah Bapa, berilah kami hati seperti hatimu, agar diri kami makin terpikat untuk mengandalkan kuasa-Mu dalam perjuangan hidup kami. Karena Engkaulah yg bekerja dalam segala sesuatu. Karena Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *