Kekuatan Sebuah Pengakuan

SECERCAH HENING
Sabtu, 29 Juni 2024

Mat 16 : 13-19

Pengakuan adl Cinta yg menubuh,
Tempat iman berlabuh,
Mengatasi titik rapuh,
Wujud kemuridan yg ampuh.

Ombak badai menembus asa,
Merangkul penghianatan yg terbuka,
Menguji ketangguhan jiwa,
Kunci pintu surga terbuka.

Dalam hidup sosialitas kita mengenal istilah ‘Homo homini socius’ artinya manusia adl teman atau manusia adl sesuatu yg sakral bagi sesamanya. Maka setiap orang pd level manapun selalu memiliki teman sebagai patner untuk berkembang termasuk untuk mewariskan nilai-nilai spiritual. Demikian juga Yesus dlm mewujudkan proyek agung karya keselamatan Dia membutuhkan teman dan pengakuan di sekelilingnya, yg sering bersamaNya salah satunya adalah Petrus. Pengakuan itu sekaligus menjadi tanda sejauhmana misi-Nya dipahami dan diterima dengan sikap yang benar. Maka Yesus bertanya kepada murid-muridnya:

” Kata orang, siapakah anak Manusia itu? Jawab mereka: Ada yang mengatakan Yohanes pembabtis… Tetapi apa katamu siapakan Aku ini? Jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mesias, anak Allah yang hidup! “. Kata Yesus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yg menyatakan utuk kepadamu melainkan BapaKu yang di surga “.

Keberanian Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias menunjukkan kualitas relasi dgn Yesus.Kualitas ini sangat ditentukan oleh kepekaan yang membentuk karakter, harga diri (self esteem) dan pilihan nilai masing-masing orang. Petrus, pribadinya yang keras, ekstrover, spontan namun karena hidup batinnya yang lembut, ia mudah dibentuk oleh relasi batin dengan Yesus, hingga sekilas saja pertanyaan Yesus tentang diri-Nya, ia sanggup menyatakan pengakuan yang tepat dan jitu. Kualitas pengenalan memudahkan Petrus tepat menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Relasi batin yang kuat memudahkan rahmat Allah bekerja hingga Yesuspun meneguhkan bahwa Allah Bapa di surga yang meminjam kata-kata yg tepat untuk bersaksi tentang kebenaran. Pengalaman inilah menjadi dasar kelak bahwa Gereja dibangun dari keterbukaan setiap hati untuk dibentuk oleh rahmat. Kegagalan, kejatuhan, kerapuhan, kejahatan dan dosa ternyata tidak menghalangi rahmat untuk menjadi alat-Nya. Seperti juga kisah Santo Paulus yang semula bermisi membunuh pengikut Kristus, akhirnya menjadi rasul yang militan. Marilah pada pesta St. Petrus dan Paulus ini kita belajar makin terbuka dibentuk Allah sehingga mudah mengenali kehadiranNya dalam realitas hidup yang nyata. Jangan bimbang dengan hidupmu yang rapuh dan kadang tidak setia, namun bimbanglah manakala hidupmu jauh dari Tuhan. Karena kekuatanmu akan dibentuk oleh relasimu yg kuat pada Tuhan, hingga engkau disanggupkan merangkul setiap penderitaan, dengan hati yang mengasihi.

Contemplating
Marilah kita hening…… memandang pekerjaan Allah dlm pergumulan batin menjalin relasi dgn Allah.

Actuating
Sikap batin apa yg perlu kubiasakan agar memiliki ikatan batin yg kuat dgn Yesus.

Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasi dan pengenalan dgn Yesus ? .

Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hatiku, agar jiwaku mudah dibentuk oleh relasi kami dengan Yesus PuteraMu, sehingga sebagaimana St. Petrus dan St. Paulus menjadi perantara rahmat bagi Gereja yang hidup. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Selamat HR St.Petrus dan Paulus
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *