SECERCAH HENING: Belajar Percaya

Kamis, Parapaskah V 26 Maret 2026

Yoh 8: 51-59

“Belajar Percaya”

Meragu di titik waktu,
Mengendus wajah baru,
Mengusir aroma palsu,
Mempertegas misi baru.

Ia yang hadir menebar ragu,
Bagi hati yang pilu,
Belum siap akan yang baru,
Melempar batu tanda berseteru.

Suatu saat, Bapa Suci Paus Fransiskus berkunjung ke salah satu paroki di Vatikan. Dan bertemu dengan umat, salah satunya adalah seorang pemuda yang dengan keraguan besar bertanya demikian: “Bapa Suci, bagaimana cara mempercayai Tuhan? Pernahkah Bapa Suci mengalami keraguan? “. Bapa Suci menjawab dengan singkat: “Keraguan adalah bagian dari kehidupan” jangan takut untuk ragu. Hal yang sama rupanya juga dialami oleh orang Yahudi yang dalan Injil hari ini keraguan untuk mempercayai Yesus sebagai Tuhan, membuat orang Yahudi tidak bisa lagi membedakan setan dan Tuhan, yang dikisahkan dalam cuplikan sabda berikut:

Yesus berkata:
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya”. Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan memgalami maut sampai selama lamanya.”.

Jangan takut untuk ragu dan salah dalam menangkap kehendak Tuhan. Orang Yahudi yang mengalami keraguan mencapai puncak kritisnya dengan menutup diri terhadap kehadiran Yesus. Akibatnya mereka tidak mampu menangkap apa- apa dari kehadiran Yesus dalam hidupnya. Bahkan dengan terang-terangan membuat skandal dengan menuduh Yesus kerasukan setan. Hal ini terjadi karena orang Yahudi secara definif lahir batin menolak Yesus, hingga apapun karunia yang ada di depan mata tak sanggup ditangkapnya sebagai karunia Tuhan. Tetapi malah disebut kerasukan setan. Kedosaan, ketertutupan, kesombongan orang Yahudi menutup jalannya sendiri untuk memperoleh keselamatan melalui Yesus. Inspirasi bagi kita, keraguan, dan keterbatasan kita bisa menjadi hambatan untuk setia dan percaya pada Yesus, namun juga sebaliknya menjadi saat kilas balik pencarian Allah yang lebih dalam. Sikap mana yang akan kita pilih saat kita ragu ? Apakah kita tetap percaya atau menolak Yesus dengan membuat skandal kehidupan ? Apapun pilihan sikap kita, marilah kita makin mempererat jalinan batin pada Yesus supaya kitapun makin percaya bahwa Yesus sangat mengerti dan merasakan kerapuhan dan keraguan kita. Dan semoga di masa tobat ini, kita makin mengikis setiap skandal yang memperburuk situasi hidup kita. Belajar percaya berarti rela berlabuh lebih dalam, pada pelukan kasihNya yang membuat hati kita teduh supaya kita sanggup melewati hari-hari yang tidak pasti ini dengan iman, kesabaran, ketabahan dan pengharapan bahwa di ujung kekhawatiran ini akan ada khabar baik dan sukacita hidup dalam Tuhan.

Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar makin mampu mendengarkan Tuhan dalam realitas hidup ini.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kita ubah dan biasakan agar makin matang dalam menghayati tiap firman Tuhan.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dan percaya akan penyelenggaraan Allah dalam hidupku.

Praying
Bapa ajarilah kami mencintai firman-Mu dan terus belajar mengenali dan melaksanakan kehendak-Mu, hingga kami layak menjadi murid-Mu yg setia dan beroleh keselamatan, karena Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *