SECERCAH HENING “Mata Ketiga”

SECERCAH HENING
Jumat, 11 September 2026

Luk 6 : 39-42

“Mata ketiga”

Semburat mata gelapkan cara,
Menubuh hingga tak bercahaya,
Lesu menyelimuti fatamorgana,
Tenangkah hati, jernihkan mata.

Menelusup kasih heningkan hati,
Tiarap rendahkan diri,
Peluk balok bersihkan hati,
Fokuskan energi tuk mencintai

Menurut St. Thomas Aquinas, “Kebutaan” dalam arti rohani dapat dipahami sebagai keadaan manusia yang kehilangan kemampuan untuk melihat dan menilai sesuatu menurut kebenaran. Mata jasmani membantu kita melihat realitas fisik sedangkan akal budi dan iman membantu kita mengenal kebenaran yang lebih mendalam. Karena itu seseorang dapat memiliki mata secara jasmani tetapi tetap “buta” secara rohani apabila pikirannya tertutup terhadap kebenaran dan kehendak Allah. Kebutaan rohani terjadi ketika manusia tidak lagi memiliki terang yang cukup untuk membedakan yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah, serta jalan yang membawa pada Allah. Ada ungkapan “Satu satunya kegelapan tanpa cahaya adalah malam ketidaktahuan”. Kebutaan kita bukan hanya soal tidak bisa melihat tetapi ketidaktahuan terhadap pengenalan terhadap diri sendiri maupun, alam sekitar dan Tuhan. Seperti bacaan Injil hari ini.Yesus menyampaikan perumpamaan kepada murid-murid-Nya.

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta, bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang…. Lebih baik keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”.

Kata kunci dari sabda ini nampaknya ada pada mata. Ketertutupan mata diberi gradasi buta berarti tidak melihat sama sekali, atau melihat tetapi tertutup balok, atau melihat tetapi juga masih terhalang selumbar. Tingkat keterbukaan mata kita sesungguhnya bukan hanya usaha dan potensi kita semata, tetapi adalah anugerah Allah. Namun di atas itu Allah senantiasa mendorong kita untuk memiliki kepekaan dan keterbukaan, sejauhmana setiap realitas yang kita alami sanggup kita tangkap sebagai wajah Allah menyapa kita. Keterbukaan mata kita atau cara pandang kita semakin terbuka dan positif semakin kita mampu melihat realitas dan keberadaan sesama juga terang dan positif. Tetapi jika mata kita tertutup oleh karena ketertutupan hati kita membuat cara pandang kita terhadap realitas dan sesama jadi gelap dan kurang positif. Dan keterbukaan atau ketertutupan mata juga dipengaruhi oleh hati kita. Jika hati kita penuh damai dan penuh oleh rangkaian pengalaman dikasihi Allah maka mata kitapun akan jernih dan terang dalam memandang realitas dan sesama. Kejernihan mata berasal dari kejernihan hati dan terang iman. Marilah kita setia menjaga hati yang bersih, iman yang dalam dan kasih yang bisa menuntun pada Kebanaran agar mata kita jernih melihat realitas dan sesama dengan positif pula. Jangan gelisahkan hati kita dengan aneka hal yang memperkeruh pendangan kita. Tenanglah dan berhentilah sejenak untuk mendengarkan hati kita yang terdalam. Di sana kita akan rasakan Tuhan yang bersemayam yang akan menjernihkan hati dan cara kita melihat realitas dengan mata ketiga yakni perpaduan mata kita dengan mata Allah yang kudus.

Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada Kristus sumber kejernihan hati .

Actuating
Membiasakan diri memiliki hati yg jernih agar mata kita juga jernih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hening dan menatap kehidupan dengan terang.

Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati seperti hati-Mu, agar dimanapun kami mampu menjaga hati, budi dan mata kami yg senantiasa memancarkan cahaya-Mu dalam tingkah laku kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *