Luk 4: 31-37
“Pengetahuan tentang Allah vs Hidup dalam Allah”
Terpana dalam balutan rasa,
Kagum oleh lembutnya cara,
Menginspirasi tanpa kata,
Simple utk kekudusan sempurna.
Roh jahat berkata : ” Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah”.Pengenalan terhadap kebenaran ini tidak otomatis berarti keselamatan. Iblis dapat mengetahui bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, tetapi pengetahuan itu tidak menghasilkan kasih dan ketaatan pada Allah. Di sini ada pengetahuan rohani yang sangat kuat, bahwa mengetahui tentang Allah tidak sama dengan hidup dalam Allah. Seseorang dapat memiliki pengetahuan iman yang luas, dapat berbicara tentang Tuhan, bahkan mengetahui ajaran iman dengan sangat luas, tetapi tetap membutuhkan pertobatan hati dan kehendak untuk kebaikan agar bisa hidup dalam Allah.
“Aku tahu siapa Engkau Yang Kudus dari Allah”
Cuplikan kata-kata di atas keluar dari mulut seseorang yang kerasukan setan. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah anekdot jika ingin mengetahui identitas kita, kualitas pelayanan kita, sepak terjang kita dalam keseharian, sesungguhnya akan terbaca dengan jelas pada orang orang yang secara normatif kurang bersimpatik dengan kita. Identitas dan kuasa Yesus terbaca secara gamblang justru oleh orang yang kerasukan setan. Identitas itu lahir, di bentuk, dihidupi dari pilihan nilai, passion, orientasi, dan visi hidupnya. Kalau kerasukan setan saja mampu melihat dan menyatakan kebenaran iman dan kebenaran pengetahuan tentang keberadaan Yesus sebagai yang kudus dari Allah. Meskipun iblis tidak hidup dalam iman akan Allah. Bagaimanakah dengan kita ? Apakah kita mampu juga melihat keberadaan Yesus yang kudus dari Allah.Kekudusan Yesus yang kita imani membawa ciri kesaksian yang hidup penuh kuasa Roh Kudus, dan hikmat Allah. Dimana kata-kata dan tindakannya menumbuhkan pengharapan, kegembiraan, sukacita dan memberi kehidupan bagi banyak orang. Semoga kesaksian dan identitas hidup-Nya mendorong dan menginspirasi kita untuk hidup seturut semangat-Nya. Hidup dalam Allah bentuk adalah proses panjang, dari upaya kita membatinkan dan memeluk setiap pengalaman atau realitas sebagai pengalaman perjumpaan antara aku “real self” dengan Tuhan. Perjumpaan yang intens dan sangat personal akan membius seluruh pikiran, perasaan dan perilaku kita mirip dengan gerak hati Allah. Maka kita tidak akan memahami kekudusan Allah, jika kita tidak sering berjumpa dan saling “memandang” dalam cahaya kontemplasi tentang Allah dan hidup dalam tuntunan Allah. Mari jangan gelisahkan hidup ini, dengan melihat dunia realitas dengan satu pandang bisa mengacaukan pikiran dan hati kita. Sebaliknya mari kita memandang Allah dalam segala sesuatu, dan segala sesuatu dalam Allah. Hingga hati kita makin tervibrasi untuk memandang segala sesuatu menjadi pegalaman perjumpaan dengan Allah yang menguduskan.
Contemplating
Mari kita heningkan seluruh diri kita. Tarik nafas perlahan. Sadari setiap tarikan nafas adalah saat menimba belas kasih dan kekudusan Tuhan. Biarkan Tuhan mengisi ruang batin kita.
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan membuka diri terhadap bimbingan Roh hikmat.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dan rendah hati meneladan hidup dan visi Yesus.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang damai, agar kami mampu mengembangkan kepekaan untuk mengalami kehadiran-Mu tiada henti, demi keselamatan kami
Karena Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

