Secercah Hening : Spes Non Confundit

SECERCAH HENING
Rabu, 30 Juli 2025

Mat 13: 44-46

“Spes Non Confundit”

Menepi di ujung hari,
Menemani tiap sepi,
Berjuang untuk mencari,
Kebahagiaan yang sejati.

Berlelah di titian hari,
Berjuang tiada bertepi,
Berteman keraguan diri,
Di ujung hari kepastian menanti.

“Spes Non Confunfit”: Harapan tidak mengecewakan. Bulla Paus Fransiskus tentang Tahun Yubelium 2025. Mengapa tidak mengecewakan karena menawarkan kasih Tuhan. Kasih Tuhan yang hadir dalam perjalanan dan pencarian makna hidup.
Hidup sejati adalah pencarian makna dalam titian waktu. Pencarian bertumbuh dari hari ke hari, dari pagi hingga larut malam merupakan perjalanan pengharapan. Apa yang sesungguhnya kita cari di situ ?Kadangkala pencarian itu berbalut dengan situasi pergulatan yang tidak mudah. Pada satu waktu kita dihadapkan pada situasi yang menggoncang hidup. Bisa saja mengubah wajah pencarian kita tentang apa yang paling berarti dalam hidup kita. Dan membelokkan pada jalan baru yang mengubah habit dan pola hidup sebagai jalan baru yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Namun esensi pencarian tetap ada sampai kapanpun, seperti dalam Injil hari ini:

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu “.

Pertanyaan bagi kita apakah yang paling berharga bagi hidup kita? kisah Injil, menjadi jelas bahwa pencarian hal yang paling berarti dalam hidup tak lepas dari pengalaman hadirnya Kerajaan Allah dalam hidup.
1. Bersikap terbuka
Kerajaan Allah hadir ketika kita mulai terbuka terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari dalam keluarga, pekerjaan, relasi, dan pergaulan kita dengan sikap terbuka untuk disapa Allah yang kadang membelokkan kesadaran dan penemuan akan sesuatu yang baru. Mutiara kehidupan akan kita raih bukan nanti saat kita mati, tetapi bisa dimulai di sini saat ini. sejauh mana mulai saat ini kita telah mempertaruhkan segala sesuatu untuk hal yang paling berharga itu yakni pengalaman akan Allah, lewat pekerjaan, pergaulan, pergulatan, kegagalan, kesuksesan dan apapun yang kadang memaksa kita melewati jalan baru yang mungkin menjadi jalan baru yang mendobrak pola lama kita yang serba nyaman dengan pola baru.

2. Kebiasaan Baru
Pencarian sebuah nilai membawa kita pada budaya baru, atau pola kebiasaan baru, pola bekerja yang baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan, sebagai perjalanan yang baru. Sanggupkah kita menemukan nilai -nilai yang berharga di dalamnya?. Ataukah hanya kita maknai sebagai sebuah bencana?. Yang membawa kita pada sikap mengeluh?. Semoga inspirasi sabda hari ini menyadarkan kita untuk menjadikan setiap saat sebagai saat pencarian dan penemuan mutiara hidup yang dari padanya membuat hidup kita selalu baru dengan harapan yang baru, semangat baru. Karena di setiap titik batas kemampuan dan kemanusiaan kita selalu akan ada jalan baru yang membuat kita terkejut, tapi tak menutup kemungkinan dari situlah mutiara hidup yang pantas dibeli dengan sebuah pertaruan harga yang disediakan bagi kita.

    3. Penuh Harapan
    Mari kita belajar berziarah pengharapan. Jangan takut untuk memulai apapun yang pandang baik dan bernilai, meski untuk itu kita harus bertaruh lelah, terluka, dan berputusasa. Namun yakin jika keutamaan hidup yang kita kejar, pastilah Tuhan ada dan menemani kita disetiap titian perjuangan itu. Jangan lelah untuk terus berpengharapan.

    Contemplating
    Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan menuntun kita masuk dalam pengalaman Kerajaan Allah

    Actuating
    Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menanggapi undangan Tuhan.

    Reflecting
    Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin menemukan apa yang paling berharga dalam hidup

    Praying
    Allah Bapa, ajariah kami mampu untuk belajar dari setiap kesulitan hidup yang kami hadapi, hingga kami menemukan hal yang paling berharga dalam hidup yakni keselamatan dalam Kristus Tuhan kami Amin.

    Salve
    Salam Veritas
    Sr. Albertine, OP

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *