SECERCAH HENING: Jalan Pengudusan

Kamis,setelah Rabu Abu19 Februari 2026

Luk 9 : 22-25

“Jalan Pengudusan”

Terantuk kabut dosa,
Terjerembab jalan nestapa,
Melukis luka tanpa makna,
Tergerus di jalan hampa.

Pelangi menari di sana,
Menebus titian dahaga,
Kaki terayun ditiap tangga,
Gapai singgasana surga.

Menurut St. Thomas Aquinas, “kebahagiaan yang sejati didapat dari disposisi pikiran dan kehendak yang diterangi iman dan rahmat untuk mampu mengarahkan diri pada kehendak Allah”. Maka
Tak ada kebahagiaan didapat secara instan, juga tak ada penderitaan tanpa makna, tak ada cinta tanpa pemberian diri, tak ada kemuliaan tanpa jalan nestapa.

Artinya perjalanan hidup kita itu selalu menawarkan makna atau jalan pengudusan dibalik realitas, maka tak selamanya kesusahan hidup membuat orang menderita, dan tak selamanya kemudahan-kemudahan dan ketercukupan hidup membuat orang bahagia. Hal itu juga yang diajarkan Yesus kepada para murid yang mengikutiNya dalam Injil hari ini:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku”.

Kita sering terjebak dalam hal-hal praktis dan duniawi bahwa, jika kita mengikuti Kristus kita berharap hidup akan tertata, bahagia, usaha lancar, hidup keluarga harmonis, anak-anak patuh dan membanggakan, karena tak ada yang mustahil bagi Allah. Namun ternyata dalam perjalanan waktu, kita juga tak lepas mengalami aneka kegelapan hidup dalam wajah: sakit penyakit yang tak kunjung sembuh, gagal dalam usaha, kacau dalam membangun rumah tangga, anak-anak bermasalah, ekonomi seret, difitnah orang, dll Kita lupa bahwa mengikuti Yesus konsekuensinya adalah menyangkal diri. Menurut St. Thomas Aquinas, menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri melainkan subordinasi kehendak sendiri dan menyerahkan kehendak dan hasrat pada tuntunan Tuhan. Nilai rahmat dalam jiwa di sini lebih tinggi dari pada nilai alamiah seluruh alam semesta. Maka penyangkalan diri dilakukan untuk memprioritaskan pertumbuhan rahmat Allah di dalam jiwa di atas keinginan duniawi.

Sedangkan memanggul salib setiap hari artinya bahwa kata setiap hari menunjukkan bentangan waktu yang tiada batas, ajakan memanggul salib bukan kelak demi mendapatkan upah seratus kali lipat, tetapi saat ini, setiap hari untuk ikut mengambil bagian hidup dalam Allah sendiri. Sedangkan kabaikan, kelimpahan dan berkat yang mengiringi hidup kita tiap hari bukanlah tujuan tetapi buah atau resonansi kebaikan Allah. Semoga undangan Yesus untuk mengikuti-Nya dengan menyangkal diri dan rela memanggul salib tiap hari, menyadarkan kita akan jalan pengudusan yang ditunjukkan agar hidup kita makin mampu memaknai setiap penderitaan, dan kesulitan hidup dengan sabar, penuh damai, dan pengharapan. Semua itu sebagai wujud kesanggupan kita hidup dalam Allah, yang kita peluk erat menjadi saat hidup yang dimurnikan dan dikuduskan dalam Tuhan. Semoga kita tidak kehilangan senyum pengharapan karena bagi hati yang percaya dan mencintaiNya, kita akan senantiasa di topang oleh bahu dan jemari Tuhan yang perkasa.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan hati,budi, jiwa dan seluruh diri sampai hati kita menemukan kedamaian.

Actuating
Membiasakan diri hidup yang penuh harapan untuk sanggup memeluk derita tiap waktu.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hidup dalam semangat Tuhan.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg damai dan penuh pengharapan, agar sanggup menyelami salib dan kenyataan hidup setiap hari, sebagai jalan pemurnian untuk bisa mengalami hidup dalam Tuhan.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *