SECERCAH HENING: Perfect of Love

Selasa, Prapaskah III 10 Maret 2026

Mat 18: 21-35

“Perfect of Love”

Terluka dalam balutan cinta,
Sembuh oleh belas kasih nyata,
Pengampunan bukan indah di kata,
Kepenuhan yang bahagia.

Pengampunan jadi tanda pertama
Belas kasih kian meraja
Merengkuh tanpa batas jiwa
Tanda hidup kian bahagia

Pernahkah kita sulit mengampuni? Mengapa kita menjadi sulit untuk mengampuni? Biasanya sulitnya kita mengampuni bukan karena beratnya kesalahan dan dosa sesama terhadap kita, tetapi beratnya belenggu sakit hati yang kita rasakan. Jadi sumbernya adalah hati kita yang sakit karena terluka. Sementara mengampuni adalah memberikan obat atas kesembuhan dari hati yang penuh. Hati yang terluka dan kondisi sakit akan sulit memberikan daya dari kepenuhannya. Hal yang serupa dialami oleh Petrus dalam perjalanannya mengikuti standar pengampunan yang diberikan Yesus kepadanya dalam Injil hari ini:

Datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? ” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Pesan dari sabda ini adalah salah satu kekhasan ajaran Kristiani yakni kasih dan pengampunan. Standar tindakan pengampunan adalah Allah yang mengampuni. Sumber pengampunan pertama-tama adalah Kasih Allah sendiri. Ketika kita telah merasakan sendiri kasih Allah secara nyata dan penuh dalam hidup. Maka akan mudah bagi kita untuk mengampuni. Namun jika diri kita masih penuh dengan luka-luka yang belum tersembuhkan oleh pelukkan kasih Allah melalui proses pengolahan dan penerimaan diri, maka akan sulit untuk mengampuni. Maka sebelum kita sanggup memenuhi standar tinggi yang di tetapkan Allah. Marilah pertama-tama kita mengampuni diri sendiri dan mohon agar kitapun diampuni Allah. Hingga kita meneguk kebahagiaan batin, karena dari hati yang damai dan penuh cinta, maka kita akan mampu mengampuni tiada batas. Saya sering kali mengajak anak didik mencintai diri sendiri itu penting, “love your self first”. Cukup memulainya dengan sederhana, tersenyumlah dengan dirimu sendiri sebelum kita memberi senyum manis buat Tuhan dan orang lain. Tanpa sadar kita sering melukai diri sendiri dan orang lain, terutama saat kita bersikap atau berkata kasar terhadap orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri kita sendiri dan sesama kita. Sedangkan esensi dari pengampunan adalah mengasihi sesama tanpa memandang kesalahan atau apapun yang menghalangi manifestasi kasih yang tulus. Dan buah dari pengampunan adalah kasih. Jangan ragu dan takut untuk mengampuni sesamamu, karena saat itulah engkau sedang merajut benang-benang kasih dan lembut yang menyembuhkan karena berasal dari kemurahan hati Allah. Ketika kita bisa mengampuni dampak pertama yang akan kita rasakan adalah kedamaian hati. Efek positif bagi orang lain adalah pantulan kedamaian yang kita pancarkan. Ketika kita diminta mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, pertama tama bukan jumlah angka, tetapi tanda keterbukaan hati untuk mengalami kesempurnaan kedamaian dan kasih. Jumlah yang banyak akan membuat pengulangan secara intens pada sikap, tindakan dan kehendak pengampunan. Jika hal itu berulang dilakukan, maka lama kelamaan akan menjadi sebuah karakter tetap membentuk identitas dan integritas diri kita. Hingga hati kita akan dipenuhi bukan saja oleh ampun mengampuni tetapi lautan kasih yang meneduhkan kehidupan.

Contemplating
Mari kita rasakan keheningan, mencoba hadir saat ini, Sadar dan tatap realitas dengan mata hati yang bahagia.

Actuating
Membiasakan diri mengelola gerak batin yang bersumber dari relasi dengan Allah. Hingga hati kita mirip dengan hati Allah yang penuh kasih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang dan bahagia menyikapi realitas sesuai kemurahan hati Allah.

Praying
Allah Bapa kami, seturut teladan Yesus buatlah hati kami senantiasa manis, lembut dan penuh Cinta hingga kami boleh menikmati hidup bahagia dan pengampun. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *