Selasa, Prapaskah IV 17 Maret 2026
Yoh 5:1-3a.5-16
“Get up”
Manja berpeluk duka,
Merintih dalam jiwa terluka,
Nyaman dalam kubangan dosa,
Bermimpi meraih asa.
Meronta & menuntut sesama,
Lupa peluang di depan mata,
Bangun dan sapu nestapa,
Dia ada atasi segala.
Menurut Santo Thomas Aquinas, penyembuhan orang sakit seperti yang dilakukan oleh Yesus adalah tindakan kasih (Caritas) paling luhur. Maka kasih adalah dasar penyembuhan, dan rahmat Tuhan bekerja melalui sarana manusia. Orang sakit bisa sembuh bukan karena berat ringannya penyakit saja, tetapi seberapa besar orang yang bersangkutan terbuka untuk mau ditolong orang lain agar sanggup bangkit dan mau keluar dari zona kenyamanan penyakitnya. Namun banyak orang justru sering nyaman dengan zona penderitaannya. Hal ini senada dengan sabda Yesus dalam Injil hari ini. Yang dengan tegas mendobrak kenyamanan orang yang sudah puluhan tahun nyaman dengan sakitnya, dan kehadiran Yesus menantang zona kesadarannya dan berkata :
“Maukah engkau sembuh? ” Jawab orang sakit itu kepada-Nya:”Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku”. Kata Yesus:”Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” pada saat itu sembuhlah orang sakit itu.
Kisah ini menggemaskan,
si sakit didobrak untuk rela bangkit, bukan karena Yesus tidak mau menolong tetapi kesembuhan yang dianugerahkan Yesus bekerja dalam kesiapan mental si sakit untuk percaya kepada kekuatan Tuhan. Dalam kisah di atas si sakit tidak menjawab pertanyaan Yesus tentang maukah engkau sembuh? Jawabnya sebenarnya cukup ‘Mau’ atau’tidak mau’ tetapi si sakit malah menyalahkan orang lain yang tidak berbuat kasih bagi dirinya. Hal ini justru bisa menghalangi kuasa Yesus langsung bekerja atas kesembuhannya. Karena buktinya dengan Yesus ada di hidupnya si sakit tidak perlu diceburkan ke air lagi, karena Yesus sendiri air kesembuhan, air kehidupan. Dan kuasa Yesus sudah ada tinggal maukah ia “get up” bangun dan mengangkat tilam disertai dengan sikap rendah hati memohon kekuatan Allah. Setiap orang yang jatuh terpuruk bisa jadi disebabkan justru oleh tilam kenyamanan. Tilam kenyamanan yang membuat kita tidak bisa sembuh dan bangkit dari keterpurukan hidup adalah: kemalasan, kenyamanan, iri hati, berpikir negatif, mengeluh, menyalahkan orang lain dan keadaan, pesimistis, dll. Hal itu bisa merupakan “mental block” kehidupan kita. Sanggupkah di masa tobat ini kita rela mengangkat tilam kita sendiri untuk mau bangkit dari keterpurukan hidup kita, baik karena sakit, kegagalan ekonomi, persoalan keluarga, pekerjaan, relasi, bisnis, dan keterpurukan lainnya. Ajakan Yesus untuk bangun dan mengangkat tilam membuat kita sembuh dan mengalami hidup baru. Mari kita Jangan ragu untuk bangun dan angkat rapuh kita di setiap ujung kelelahan kita, karena Tuhan ada dan menopang kita dengan lenganNya yang perkasa.
Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar beroleh damai untuk bisa mengalami kehadiran Tuhan.
Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk menghidupkan kematian-kematian kecil agar hidup makin selaras sengan semangat Tuhan yang berbelas kasih.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dalam menghidupkan setiap kematian dalam hidup.
Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati yang berbelas kasih seperti Engkau. Sehingga hidup kami layak menjadi perpanjangan tangan-Mu untuk membangkitkan setiap sisi kematian diri kami sendiri dan sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

