Senin, Paskah ke III 20 April 2026
Yoh 6 : 22-29
“Motivasi sebuah Pencarian”
Terbius oleh rasa,
Terpana oleh pesona,
Terkesima oleh cara,
Mengikuti dengan tergesa,
Saat menantang senja,
Semua jadi berwarna,
Misi pencarian kian sempurna,
Melakukan kehendakNya.
Kematangan menjalin sebuah relasi butuh proses. Motivasi awal bisa sangat manusiawi, misalnya : Ketertarikan fisik, kecocokan rasa, kesamaan visi, kebutuhan yang perlu dipenuhi, dan akhirnya sampai pada motivasi imani yang menjadikan sebuah relasi itu makin mendalam dan membuahkan gravitasi ilahi yang menyelamatkan. Demikian juga hubungan Yesus dengan para murid yang dikasihi. Hubungan mereka juga melewati proses dan pencarian diri yang tidak mudah. Seperti dalam Injil hari ini : Yesus berkata:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukanlah karena kamu melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang, Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa melainkan makanan yang bertahan sampai hidup kekal “.
Setelah para murid mengalami mujizat besar berupa penggandaan roti, mereka terpesona dan mengikuti kemana Yesus pergi. Motivasi mereka mungkin awalnya amat simple bisa makan kenyang dan gratis sambil mendapat wejangan yang menyejukkan di tengah pergumulan hidup yang garing atau galau !. Namun bagi Yesus bukan itu yang penting. Semua pengalaman mujizat yang diberikan hanyalah sedikit tanda kemuliaaan Allah yang dinyatakan bukan sebagai sinterclas. Tetapi proses dari ‘on going formation’ agar para murid bertumbuh makin dewasa dalam mengikuti Yesus bukan karena mujizat, tetapi karena percaya akan nilai hidup dan jalan kebenaran yang ditunjukkanNya. Motivasi pencarian nilai kehidupan para murid untuk semakin mengenal Yesus harus semakin mendalam, dari hal-hal yang sangat manusiawi/ragawi (urusan perut)ke jenjang spiritual. Pada awal para murid dibiarkan mengikuti Yesus karena motivasi yang sangat dasar yaitu ingin melihat aneka mujizat yang bisa dilihat, didengar, dinikmati berkaitan dengan urusan ‘basic need’ dan sensasi emosional seperti ketakutan melihat Yesus berjalan diatas air. Dan melangkah ke jenjang spiritual yakni pengalaman Damai sejahtera sebagai “inner power” sebagai pondasi untuk melangkah ke jenjang formasi berikutnya yaitu “Mengerjakan Pekerjaan yang Dikehendaki Tuhan”. Maka mengikuti Yesus secara matang tidak hanya berhenti pada hal-hal yang duniawi melalui kepuasan dengan menikmati aneka mujizat, dan anugerah lainnya, tetapi harus sampai pada keterlibatan dengan misi kebangkitan Yesus yakni mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan atau menjadi perpanjangan tangan Allah. Semoga pengalaman Paskah membuat pencarian kita setiap hari bukan hanya urusan mencari uang, mencari kenikmatan dan keenakan rahmat dari berbagai sisi. Tetapi bagaimana setiap hari mampu kita maknai sebagai jalan peziarahan kita untuk mengenal Yesus dalam aneka wajah. Wajah saudara kita yang galau, wajah yang berduka, wajah yang lapar, wajah yang putus asa ?, wajah yg ketakutan ? wajah keputusasaan ?. Jelas kita tidak bisa berbuat banyak. Dalam kerapuhan yang sama itu, namun setidaknya kita bisa menggunakan setiap nafas kita jadikan saat doa, pikiran kita abdikan untuk menyumbangkan iklim kebaikan, tangan dan kaki kita untuk bekerja keras dengan penuh hasrat bagi kebaikan sesama, telinga kita siapkan untuk mendengar suara terdalam dari Allah dan sesama. Dan memaknai hari ke hari mengalir dari keheningan agar kita menjadi lebih sabar merangkul “kasunyatan” atau realitas dari vibran atau gravitasi ilahi bukan dari sekedar emosi.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita, agar mampu mengenali wajah Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan untuk makin matang dalam menjalin relasi batin dengan Allah. Hingga dapat melakukan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan.
Reflecting
Apakah pengalaman Paskah mampu menyentuh hidup batinku dalam tataran aksi, hingga hidup makin layak menjadi perpanjangan tangan Allah?
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami damai sejahtera yang menyejukkan dan memberi air segar bagi hidup kami, hingga kami makin kuat dalam menghayati iman dan perutusan kebangkitan PuteraMu. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP

