Selasa, Paskah ke III 21 April 2026
Yoh 6: 30-35
“Symbolic Way”
Kudengar detak pertama
Dalam rahim belantara,
Nyaring d’ keheningan rasa
Kebangkitan akan jd tanda
Kudengar detak pertama,
Hiasi suara keheningan,
Susuri arus kasih sayang
Roti kehidupan jd tanda.
Kudengar detak pertama,
Dalam bayang2 senja,
Pelangi di ujung mata,
Buat hidup penuh rasa.
Zaman ini, dari aneka tanda yang terlihat, manusia makin kehilangan rasa untuk bisa memaknai setiap tanda kehidupan.
Sebagaimana para murid ada banyak tanda dan mujizat yang dilakukan Yesus secara mengagumkan namun para murid takut untuk mempercayai apa yang dilihat dan didengar. Bahkan ketakutannya bisa membawanya ke kematian rasa, ‘only thing we have to fear is fear itself’ ( padahal satu satunya hal yang kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri). Mujizat Yesus yang telah menyelamatkannya dari badai dan pergandaan roti yang mengenyangkan ribuan orang secara beruntun tidaklah mampu mengubah pandangan mereka tentang Yesus. Sebagaimana Injil hari ini :
” Yesus berkata : inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah , yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Jawab mereka:
Tanda apakah yang Engkau perbuat supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepadaMu ? “.
Memandang tanda kehidupan dengan rasa tidaklah mudah, apalagi ketika tanda itu menyangkut keselamatan kita. Karena tanda keselamatan kadang tidak hanya hadir dalam tanda yang ajaib dan spektakuler. Tetapi yang sederhana, biasa-biasa, tetapi hadirnya menginspirasi hidup dengan cara yang sederhana, namun memberi energi dan daya ubah yang luar biasa. Namun apakah kita sungguh percaya? Jika percaya maka setiap hari Allah sesungguhnya telah menyusun scenario yang kadang amat lembut untuk menyapa kita. Karena Allah akan hadir tidak akan melampaui kemampuan kemanusiaan kita untuk menangkapnya. Allah sesunggunya hadir setiap hari dalam film kehidupan kita yang nyata. Yang dibutuhkan dari kita adalah kepekaan mempertajam indera agar makin terbuka menangkap sensor kehadiran Allah. Dan cara mempertajam indera adalah keberanian memberi ruang hening dalam hidup, mengosong diri, membiarkan Tuhan masuk dalam kamar sempit diri dan ego kita, dan hadir menubuh dengan kemanusiaan kita. Dari waktu yang ada setiap hari kita perlu memberi waktu yang adil bagi kehadiran Tuhan, bukan saat kita tidur tetapi justru saat kita terjaga dan sadar, supaya kita bisa menangkap tanda kehadiran Allah dengan jelas mulai bangun tidur dengan sehat sampai mau tidur lagi dengan penuh syukur. Dalam bentangan waktu dari pagi hingga malam menjelang pasti banyak tanda kehadiran Tuhan lewat pekerjaan dan aktivitas kita . Sehingga scenario peta perjalanan hidup kita mantap disertai Allah dan tidak menyimpang dari rencana Tuhan sendiri. Mari jangan takut meniti peta perjalanan kaki kita tiap hari, biarkan rasa kita bertumbuh dalam tiap titik perhentian, saat lelah, rapuh, lemah berhentilah sejenak melambat rasakan tanda kehadiranNya yg ajaib hingga kita makin percaya kepadaNya.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin peka merasakan tanda kehadiran Allah.
Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin terbuka dan peka terhadap kehadiran Allah.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dan peka dibimbing oleh Roh yang menghidupkan.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg terbuka dan jiwa yg peka, agar hidup kami makin mengalami kepenuhan dan kebahagiaan karena mengenal Kristus yang hadir dalam tanda-tanda kehidupan setiap hari. Dalam semangat Kristus Tuhan dan juru selamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

