Rabu, Paskah III 22 April 2026
Yoh 6 : 35-40
“Transubstansiasi”
Terjerembab duka,
Hati teriris luka,
Kehilangan yg tertunda,
Datanglah agar tak dahaga.
Haus yg tak bisa ditunda,
Dia menyapa lewat duka,
Datanglah kapan saja,
Roti hidup tersedia untuk anda.
Menurut pandangan St. Thomas tentang “Roti Hidup” seperti dalam Injil hari ini berpusat pada kehadiran nyata Kristus dalam ekaristi yang melampaui dari sekedar simbul. Menurut St. Thomas Aquinas kehadiran nyata (Substansiasi) dalam roti dan anggur diubah secara substansial dalam ekaristi menjadi tubuh dan darah Kristus meskipun rupa (aksiden) roti dan anggur tetap ada. Roti hidup adalah makanan rohani yang memberi jaminan hidup kekal bagi yang percaya dengan menyambut komuni sebagai makanan jiwa. Maka Roti hidup bukan sekedar ajaran atau simbul melainkan secara substansial Yesus Kristus sendiri yang hadir dalam ekaristi sebagai makanan rohani yang menghidupkan. Sebagaimana dalam Sabda Yesus hari ini:
“Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”.
Cuplikan Sabda ini mau menegaskan bahwa kelaparan dan kehausan yang paling hakiki dalam hidup kita sesungguhnya bukan soal ragawi cukup dipenuhi dengan nasi atau roti dan air minum sebagai asupan fisik, tetapi soal asupan jiwa atau ‘the salvation of soul’ yang hanya bisa dipenuhi dengan kepenuhan iman dalam kehadiran Tuhan sebagai gerak turun Cinta Allah yang menyapa. Perayaan Ekaristi menjadi pemenuhan akan lapar dan haus jiwa yang lahir berkat Cinta Allah. Cinta ini akan membawa dampak penyembuhan yang luar biasa jika diterima dengan cinta yang sama dari kita inilah menu ilahi (menu ekseklusif) yang dimasak secara sempurna antara rahmat cinta dan pemberian diri Allah dalam pengorbanan Yesus melalui tubuh dan darahNya. Secara rohani cinta dan iman yang mengalir dari kedalaman hati, membuat perayaan ekaristi memberi makanan jiwa yang sempurna. Tiap kali dalam perayaan ekaristi kita diundang dan dilibatkan oleh rahmat untuk berbagi sebagai manusia ekaristis yakni menjadi roti yang hidup bagi sesama. Semoga sikap dan tindakan kita mampu : Menginspirasi, memberi kesegaran, meneguhkan, menguatkan yang lemah dan menghidupkan harapan bagi yang putus asa agar tidak ada seorangpun yang hilang dari jangkauan Cinta Allah. Yesus yang menawarkan diri sebagai santapan jiwa di rumah Kerajaan Allah. Dan kita senantiasa diundang untuk singgah dan merindukan santapan jiwa sebagai kekuatan yang tak habis kita timba, kita cintai dan kita rindukan. Semoga kita makin merindukan dan mengikuti Ekaristi dengan sepenuh hati, jiwa dan cinta hingga kita mengalami kehadiran Tuhan yang penuh dan nyata menyelamatkan kita dengan kebahagiaan yang sempurna.
Contemplating
Marilah kita hening, menyentuh kedalaman hati, belajar memandang, merasakan kembali Allah yang telah mengenyangkan dan menyejukkan dahaga jiwa kita. Sadari dan rasakan.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan untuk makin peka merasakan sapaan Cinta Allah dalam realitas hidup.
Reflecting
Apakah perayaan ekaristi yang kita ikuti telah kita hayati dan salami sebagai pengalaman Cinta yang hidup dan menyembuhkanku? Atau sekedar rutinitas dan kewajiban?
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang peka dan jiwa yang penuh cinta, agar dahaga jiwa kami dipenuhi oleh kehadiranMu. Hingga Kristus makin menjadi jawaban dalam setiap suka duka dan kegalauan hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP

