SECERCAH HENING: Pater Noster

Kamis, 18 Juni 2026

Mat 6: 7-15

“Pater Noster”

Merindu dibentangan waktu,
Ragu manakala hati kelu,
Sendu disaat jarak hati tak menyatu,
Bersimpuh rindu jd jawabanku.

Nafasku jadikan saat merindu,
Bercengkerama tiap waktu,
Berteduh di sudut jiwaku,
Senjaku jd saat memuliakanMu.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada kita. Menurut St. Thomas Aquinas, Doa Bapa Kami adalah doa yang paling sempurna di dalamnya tidak hanya memohon semua yang boleh kita inginkan secara benar, tetapi menurut urutan yang seharusnya kita inginkan. Tiga permohonan berpusat pada Allah. Dan empat permohonan menyangkut kebutuhan manusia. Doa ini bukan hanya untuk dilafalkan tetapi pedoman hidup. Setiap permohonannya membentuk cara berpikir dan bertindak setiap orang beriman. Mengutamakan Allah, memperjuangkan kehendakNya, hidup dalam kepercayaan akan penyelenggaraanNya, mengampuni sesama, bertahan dalam pencobaan dan berharap akan keselamatan kekal sebagaimana Yesus bersabda:

“Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu… “.

Doa adalah membuka relasi seluasnya kepada Allah yg memahami segala sesuatu dlm hidup, pun termasuk ruang-ruang buta yg kitapun tidak tahu, Allah telah mengenalinya dengan jelas. Maka saat doa kita hanya perlu membuka hati, budi, indera dan sikap batin yg benar, yg menyesuaikan dengan gelombang ilahi hingga kita terkoneksi dan mudah dijangkau oleh Allah.Jika sudah terjalin koneksi batin yg mendalam, maka intensi doa kita berupa: Permohonan, syukur, ungkapan kasih dan apapun intensinya, menjadi tidak terlalu penting, karena kita sudah masuk dan berenang dalam arus-Nya. Oleh karena itu tidak ada doa yg gagal atau berhasil yang ada adalah apakah hidup kita sudah terbuka lebar untuk terlaksananya kehendak Allah atau belum. Karena jauh sebelum kita berdoa Allah sudah merencanakan sesuatupun untuk hidup kita.Dan rencana Allah selalu yg terbaik, karena Allah adalah kasih.Hanya sejauhmana kedalaman relasi kita bisa mengobarkan kasih yg sama dalam sikap batin kita.Dan relasi kasih itu bisa terwujud dalam bentuk doa maupun gaya hidup kita. Sebagai gaya hidup apakah sikap batin kita tiap saat, tiap waktu, tiap peristiwa, tiap air mata, tiap canda tawa juga menjadi saat batin kita terkoneksi dgn Allah.
Doa Bapa kami yg diajarkan Yesus dalam Injil hari ini merupakan bentuk ekspresi narasi dari sebuah relasi yg sempurna. Maka doa Bapa kami terdiri dari 7 permohonan yg diungkap secara paralel 3 untuk kepentingan Allah berupa :Nama Allah dimuliakan, Kerajaan Allah datang dan Kehendak Allah terlaksana. Dan 4 untuk kepentingan manusia yang meliputi: Kebutuhan jasmani rohani, pengampunan dosa, kekuatan menghadapi cobaan, dan pembebasan dari segala kejahatan.Maka jangan enggan dan ragu untuk menjadikan doa adalah saat teduh, saat terbaik untuk bercengkerama dan berelasi intim dengan Allah. Dan jadikan doa Bapa Kami adalah doa paling sempurna yang jika didoakan dengan hati yg merindu Allah, akan mendatangkan berkat yg melimpah.

Contemplating
Mari kita heningkan seluruh diri kita, menimba daya kepenuhan kasih Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar makin berelasi intim dengan Tuhan dalam doa.

Reflecting
Apakah hidupku setiap hari, setiap saat menjadi saat untuk terkoneksi dengan kehadiran Allah.

Praying
Allah Bapa di surga, kami bersyukur Engkau telah mengajari kami bagaimana harus berdoa. Buatlah agar seluruh hidup disinari oleh kuasa doa, hidup kami senantiasa menjadi saat menghadirkan Kerajaan-Mu. Demi kemuliaan Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Berkah Dalem
Salam Veritas
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *