Believed in Me

SECERCAH HENING
Jumat , 4 Oktober 2024

Luk 10: 13-16

Bertumbuh karena percaya,
Mencintai dgn segenap rasa,
Memberikan diri tnp batas asa,
Integritas jd wajah yg terbuka.

Kualitas kita mengimani dan percaya akan Allah, banyak dipengaruhi oleh kualitas kita untuk peduli mendengarkan kehendakNya. St. Fransiskus dari Asisi yang kita peringati hari ini memberi inspirasi bagi kita. Kepercayaannya kepada Allah membuat dia tidak mungkin tidak, dekat dan mendengarkan suara Allah melalui alam semesta dan semua makluk cintaanNya. Hidupnya menjadi sebuah harmoni bersama gita Sang Surya menyatu dengan semesta yang memacarkan kemuliaan Allah. Maka sebuah kepercayaan itu mahal harganya, dan menjadi sesuatu yg bernilai ketika orang ingin hidup dengan kepercayaaan itu secara bermakna. Maka banyak orang mengorbankan hal yg berharga untuk meraih sebuah kepercayaan. Namun kepercayaan bisa sekejab hancur oleh dorongan kuasa gelap, namun sebaliknya kepercayaan bisa memiliki daya yg dasyat oleh karena kuasa keheningan untuk rela mendengar-Nya. Hal ini sangat jelas ditekankan dalam Injil hari ini :

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukizat-mujizat yg telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu”.

Masalah yg diperbadingkan Yesus bukan soal dia tidak dihormati Khorazim dan Betsaida tetapi rupanya mengenal, melihat,mengalami kebaikan Allah dalam diri Yesus tidak serta merta membuat orang percaya dan bertobat. Tetapi orang saat itu lebih percaya pada hal-hal duniawi yg menyilaukan pandangan sekejap. Sementara yg diharapkannYesus adalah kerelaan setiap orang untuk makin terbuka hatinya dalam: memandang, mengalami,menyikapi setiap realitas menjadi tanda dan bagian yg tak terpisahkan dari kehadiran dan rencana Allah. Keterbukaan hati yg membuat makin percaya pada kuasa Allah, adalah keterbukaan yg dibangun dari kesediaan untuk mau mendengarkan. Sikap ini tentu menjadi hal yg sangat sulit dan mahal di era jaman gadget saat ini, karena setiap detik semua orang sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri dan tak punya telinga dan hati lagi untuk mendengarkan. Karena kedua telinganya sering di sumpeli head set sehingga tak ada ruang lagi untuk keheningan mendengarkan suara Allah sebagai sikap dan bentuk doa. Maka sangat mungkin realitas sedasyat apapun tidak bisa lagi menjadi peluang dan kesempatan untuk makin percaya pada Allah believed in Him. Apakah gaya hidup kita juga seperti orang Khorazim dan Betsaida? Jika ya, saatnyalah kita perlu terbuka, menyadari dan merubah diri untuk makin percaya pada aneka skenario Allah dalam hidup kita.

Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin menyelami dan mendengarkan suara Allah.

Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin terbuka melihat Allah dalam segala sesuatu.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dibimbing oleh suara Allah untuk makin percaya kepada-Nya.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami rahmat-Mu agar kami makin terbuka dan sanggup melihat Allah dalam segala sesuatu. Hingga pergumulan hidup segelap apapun tak akan memisahkan kami dari kepercayaan kepada Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *