SECERCAH HENING
Rabu, 19 Oktober 2022
Luk 12: 39-48
” Get more, give more”
Terayun oleh pelukan hati,
Tersapa saat dicintai,
Penuh karena dikasihi,
Berbagi dari tuas lembut yg teraliri.
Dicintai itu suci,
Mencintai itu abadi,
Berbagi itu melukis tapak suci,
Ekpresi citra ilahi.
Yesus bersabda:
“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut”.
Sesungguhnya apakah yang telah kita dapat dari Yesus? dan apakah yang semestinya kita beri sebagai tuntutan ? Tidak mudah untuk bisa menjawab dan merefleksikan Sabda ini, karena terkait dengan rahmat yg tersembunyi. Ilustrasi yg paling tepat pernah kita merasa dicintai-Nya? jika pengalaman dicintai itu kuat, maka makin kuat pula hati ini berpaut dan memberikan diri kita lebih dalam lagi, masuk dalam manifestasi cinta itu. Dan jika pengalaman dicintai itu makin mengakar dalam, maka buahnya akan mencapai kepenuhan dan meluber dalam perutusan sebagai buah dari kepercayaan dan cinta. Maka bukan soal diberi dan dituntut tetapi soal mendapatkan banyak dan meluber. Karena orang yg telah mengalami cinta yg penuh, pemberiannya bukan lagi memenuhi tuntutan tetapi sebagai manifestasi kasih itu. Persoalannya kadang apakah hidupku sudah merasa cukup dicintai Tuhan hingga mengalami kepenuhan yg mengalir dalam hidup yg makin murah hati untuk melayani. Ataukah hidupku selalu merasa kurang, hingga menjadi sulit untuk berbagi apalagi dituntut berbuat lebih?. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bahagia karena di Cintai Tuhan hingga setiap saat adalah saat Tuhan memberi kepercayaan untuk mengisi hari-hari hidup kita dengan penuh syukur, yang dibuktikan dengan hidup bagi sesama dan berbagi apapun dalam semangat kasih “get more, give more”. Karena semakin kita mampu memberi semakin rahmat melimpah ditambahkan untuk kita. Bukan karena kita mampu untuk bisa berbagi, tetapi karena kita dicintai, maka tidak mungkin tidak hidupku hanya akan berarti jika dimaknai untuk makin berbagi dan memberi diri dengan hati. Menjadi bahagia dan hidup berkelimpahan adalah pilihan. Bahagia dan berkelimpahan bukan soal “to have” karena bisa memiliki sesuatu, tetapi “to be” proses menjadi bahagia dan berkelimpahan karena keputusan yg dipilih dari kehendak bebas. Bukan karena kaya dan memiliki segalanya maka saya bahagia, tetapi saya bersyukur atas semua hal yg saya alami, maka hidupku menjadi sangat membahagiakan dan berkelimpahan, meskipun tetap dalam semangat kemiskinan. Bahagia dan berkelimpahan adalah soal cara saya memandang segala sesuatu dalam hidup. Saya bahagia dan hidup berkelimpahan meskipun saya tak memiliki apapun, ketika saya bisa bersyukur dari hal yg paling kecil sekalipun. Saya bersyukur dan bahagia bisa menimati udara yg segar, alam yg indah, makanan yg sehat, dan melimpah karena saya bisa memberi apapun yg saya punya kepada orang lain yakni : waktu, doa, kasih, kerja, harapan, kehadiran, sapaan, senyuman, dan kepedulian,dll.Jangan ragu untuk memilih menjadi bahagia dan hidup melimpah. Mulailah dengan mengawali dan menerima apapun dengan senyum.. Nikmati dan syukuri atas apapun yg terjadi, terima dengan sikap syukur. Niscaya kedamaian dan kebahagiaan akan memenuhi hidupmu sebagai titian awal untuk bisa memberi.
Contempating
Hirup dan hembuskan nafas dengan lembut, heningkan dirimu, tersenyumlah, sentuhlah hatimu dengan jari jemarimu. Rasakan kasih sayang Tuhan yg tengah memelukmu. Nikmati hadirNya dan masukklah dalam keheningan yg lebih dalam.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka mengalami kasih Allah.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin matang dan berkembang dalam kebaikan dan kematangan hidup.
Praying
Allah Bapa, ajariah kami memilika hati yg peka agar makin terbuka untuk merawat dan menanggapi cinta Allah. Hingga hidup mudah berbagi dan bermurah hati sebagai pemberian diri. Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
