Karakter kemuridan

SECERCAH HENING
Minggu, 28 Juli 2024

Yoh 6:1-15

Duduk tersimpuh di hatiMu,
Sunyi menanti uluran kasihMu,
Pedih mendamba hadirMu,
Tersembuh luka oleh jamahanMu.

Kosongkan pundi hatiku,
Agar layak jadi ladang sapaMu,
Lunakkan jiwaku tuk mendengarMu.
Jadi pelangi oleh warna hadirMu.

Saat ternyaman bagi tubuh untuk hening dan mencecap apapun yg ada dan memvibrasi diri kita adalah saat duduk. Duduk akan lebih rendah dari berdiri, duduk menjadi lambang kehambaan kita dalam menanti dan menerima apapun perintah dan mendengar dengan hati. Polarisasi itu juga dipakai oleh Yesus dalam membentuk pendidikan para murid untuk membetuk karakter kemuridannya.
Seperti dikisahkan dalam Injil hari ini:

Suruhlah orang-orang itu duduk”. Adapun tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan membagi bagikannya kepada mereka yg duduk di situ, demikian juga dibuatnya dengan ikan-ikan itu… “.

Intensi dasar yg dilakukan oleh Yesus dan para murid dalam penggandaan roti bukan hanya soal perut lapar yang butuh dikenyangkan.Tetapi soal transformasi hati, mental dan sikap spiritual dalam pendidikan karakter kemuridan Yesus:
Pertama
Penggandaan dimulai dari ‘passion of christ’ Yesus yg berbelaskasih terhadap orang banyak yg butuh makanan kehidupan dan kuasa ilahi Yesus yg mengubah semuanya.
Kedua
Kerelaan seorang anak yg memberikan roti dan ikan yg kemudian diambil oleh Yesus untuk dikuduskan dijadikan penuh berkat.
Ketiga
Mengucap syukur atas pemberian dan penerimaan ikan dan roti yg diangkat mengandung arti rasa syukur yg terus diucapkan membuahkan kelimpahan berkat karena kuasa Allah yg pertama tama berkarya.
Keempat
Dibagikan, artinya difokuskan kepada orang lain. Maka hasilnya berlipat-lipat ganda. Keempat sikap dasar itu yg memungkinkan penggandaan dan mujizat besar itu terjadi, karena ada kerelaan, penerimaan, syukur, dan keterbukaan utk berbagi. Mujizat ini terjadi bisa jadi bukan soal roti yg tiba-tiba melimpah ruah, tetapi kemungkinan juga semua orang yg datang mau duduk dengan sikap terbuka mau mendengarkan untuk dibentuk dan membentuk diri. Hingga ketika Yesus menerima roti dan ikan dari anak kecil, mereka sadar bahwa mereka juga membawa roti itu untuk dirinya sendiri, dan ketika melihat passion Yesus yg telah membuka hati anak kecil yg mau berbagi. Situsi itu membuat semua orang akhirnya terbuka hatinya untuk membagikan miliknya juga bagi orang lain. Kalau anak kecil saja membawa lima roti dan 2 ikan, maka orang dewasa bisa jadi membawa lebih. Dan mujizat selalu terjadi dengan melibatkan sikap batin dan keterbukaan hati setiap orang untuk dilibatkan dalam karya Allah yg dasyat. Maka inti mujizat ini bukan soal rotinya, ikannya yang melimpah tetapi sikap batin dan kerelaan hati setiap orang untuk mudah mengucap syukur, hidup berbagi, dan membiarkan kuasa Allah bekerja.
Inpirasi yg bisa kita petik, adalah
menjadi kaya atau mengalami kelimpahan hidup ternyata bukan karena hidup pelit tetapi karena sikap batin yg mudah bersyukur. Keterbukaan hati untuk membiarkan karya Allah bekerja dan sikap lahir yg mudah utk berbagi. Seperti Tubuh Kristus yang dibagikan untuk hidup banyak orang. Maka hari ini kita diundang Tuhan bukan untuk mengagumi sisa roti yg melimpah tetapi diundang utk menjadi manusia ekaristis yang hidup mau berbagi utk sesama.

Contemplating
Luangkah hati dan jiwamu untuk hening, dengarkan suara terdalam.

Actuating
Kuatkan sikap batinmu untuk makin peka mendengarkan suara lembut hatimu.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin matang dan bertumbuh menjadi manusia ekaristis.

Praying
Allah Bapa, ajariah kami mampu untuk belajar dari setiap kesulitan hidup yang kami hadapi, hingga hidup kami makin terbuka dan kaya karena berbagi seperti teladan Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *