Karakter Seorang Murid

SECERCAH HENING
Jumat, 9 Juni 2023

Mrk 12: 35-37

“Karakter Seorang Murid”

Merindu hati tersapa,
Terbenam di ujung senja,
Terdengar indahnya suara,
Menyapa tuk jadi hamba.

Diam menepi di ujung hari,
Memaknai tiap amanat suci,
Belajar dari guru sejati.
Mencintai & rela bertransformasi.

Menjadi murid yg baik di jaman ini, menjadi amat sulit dan banyak tantangannya.Paus Fransiskus dalam salah satu kotbahnya menyatakan bahwa:”anak-anak jaman ini, tidak butuh guru kecuali dia menjadi seorang saksi”. Artinya hanya seorang guru yg hidupnya sendiri menginspirasi dan menjadi model kongkret atas kata- kata yg pernah diucapkannya atau hidupnya menjadi teladanlah yg akan diikuti oleh murid dengan penuh minat. Hal itu senada dengan bacaan Injil hari ini:
Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata :

“Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud ? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata:”Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah disebelah kananku….dan orang banyak yg besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat”

Yesus tidak pernah belajar di perguruan tinggi untuk menjadi guru di sekolah manapun. Tetapi kita tahu dalam Injil selalu di sebutkan sebagai ‘Rabuni’ artinya guru. Dari kapasitas manakah Ia dijuluki guru ? Sehingga semua pengajarannya di dengarkan dengan antusias yg tinggi oleh para pendengarnya ?. Dialah guru sejati, karena seluruh pengajaranNya membawa keselamatan manusia, lewat: kasihNya, Visi hidupNya, karyaNya, pemberian diriNya, passionNya, pengorbananNya, dan diriNya sendiri, sehingga pun tanpa mengajar di depan kelas, gaya hidupnya telah menjadi potret guru kehidupan. Kualitas guru yg demikian secara otomatis membentuk karakter kemuridan bagi para pengikutNya yg ditandai dengan sikap:

  1. Mendengarkan.
    Sikap mendengarkan menjadi ‘core values’ atau nilai inti atau sikap dasar pengikut Yesus, karena iman tumbuh pertama-tama dari pendengaran. Mendengarkan yg benar akan melibatkan keterbukaan hati, pikiran, perasaan, kesadaran. Menjadi ‘listener person’ biasanya diikuti dengan sikap batin yg dalam. Karena yg di dengar pertama-tama adalah suara batinnya terdalam yakni suara Allah sendiri lewat realitas apapun yg dihadapi. Hal ini tentu kontras dengan hidup di era discription yg penuh kebisingan. Semoga kitapun mampu menjadi orang yg memiliki sikap mendengarkan (dari kedalaman), karena dari sinilah sumber keharmonisan dan kebahagiaan tercipta.
  2. Bertransformasi.
    Sikap mendengarkan yg sempurna tidak berhenti pada aktifitas indera pendengaran saja, tetapi akan membuahkan kesadaran dan kehendak yg kuat untuk mampu mengubah apa yg didengar dijadikan tindakan kongret. Sehingga tercipta perubahan: cara pandang, cara kerja, cara hidup, cara berdoa, cara bergaul, cara mengelola kehidupan, dll. Jika tidak terjadi perubahan apapun setelah mendengarkan hal-hal baik, berarti sikap mendengarkannya belum matang atau belum menjadi integritas atau setengah-setengah.
  3. Hidup penuh minat.
    Kesadaran lebih lanjut dari hasil mendengarkan dengan baik, adalah hidup yg penuh antusiasme untuk hal-hal yg membawa perubahan yg baik. Buah dari pendengaran atas suara batin yg baik ibarat api yg terus menyala “inner fire” dan mengobarkan kehidupan yg mlempem. Karakter seorang murid yg baik setelah mendengar hal-hal baik lewat realitas apapun, akan mengalirkan gaya hidup yg optimis, penuh syukur, penuh vitalitas, semringah, sumunar, semeleh, dan memberi getaran atau resonansi yg baik bagi sekitarnya. Semoga kita semua setelah mendengarkan dan merefleksikan Sabda hari ini. Hidup kita makin penuh minat untuk kebaikan dan semringah menjalani kehidupan sebagai murid Yesus yg berkarakter.
    Jangan keruhkan hati dengan aneka hal, tetapi jernihkan hidupmu dengan terus belajar mendengarkan suara batinmu dengan hati yg wening, niscaya sekeruh apapun kenyataan hidupmu, tetap akan mengalami damai sebagai awal hidup baru.

Contemplating
Mari kita heningkan diri untuk makin menyelam lebih dalam mendengarkan suara batin yakni suara Allah sendiri.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar memiliki sikap hening untuk mendengarkan.

Reflecting
Apakah hidupku setiap telah memberi waktu untuk mendengarkan suara Allah.

Praying
Allah Bapa di surga berilah kami hati yg damai dan bahagia. Agar tiap saat adalah saat yg tepat untuk menciptakan keheningan dan mendengarkan Engkau dalam setiap realitas hidup yg kami hadapi. Demi Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *