Memilih dan Memilah

SECERCAH HENING
Jumat, 9 Desember 2022

Mat 11: 16-19

“Memilih dan memilah”

Mengatupkan mata yg terluka,
Tertunduk tuk mudah disapa,
Meneduh di belahan jiwa,
Besutan Indera yg makin peka.

Perlebar ruang bagi Dia,
Menubuh dalam aneka realita,
Terpeluk erat dari hati yg tersapa,
Bersukacita di sudut senja.

Setiap orang sesuai kodradnya diciptakan sungguh amat baik. Agar hidupnya selaras dengan kehendak Tuhan yg menciptakan yakni agar manusia bahagia, selamat dan hidup sesuai citra Allah atau “Imago Dei”. Namun karena manusia dicipta sesuai cintraNya yg agung maka diberi akal budi dan kehendak bebas untuk membentuk dirinya sendiri. Kemampuan itulah yg membuatnya istimewa dan membedakan dengan ciptaan lain, hingga kadangkala ia lupa menjalani hidup menyamai Allah. Dan hidup seenaknya dan menyikapi realitas hidupnya hanya sebatas tolok ukurnya sendiri yg sebenarnya terbatas. Maka Yesus dalam Injil hari ini bersabda

“Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yg duduk di pasar dan berseru kepada Teman-temannya:Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung”.

Hidup dijaman ini mengandaikan banyak pilihan. Tiap pilihan tidak selalu berupa baik dan buruk tetapi beda tipis yg membuat kita perlu memiliki nurani yg tajam. Bahkan untuk pilihan tertentu yg ada dihadapan kita adalah pilihan yg buruk atau buruk sekali, hingga kita hanya bisa memilih sikap ‘minus malum“. Melalui sabda Tuhan hari ini kita diajak untuk makin peka dan terbuka terhadap tanda-tanda kehendak Allah dalam hidup. Kehendak Allah akan membimbing kita kemana Roh Tuhan berhembus dan menuntun kita pada semangat hidup yg baik dan tidak keras kepala mengikuti selera dan keinginan sendiri. Ketidak pekaan kita terhadap tanda-tanda kehidupan yg dikehendaki Allah, seringkali karena kita terlampau mengandalkan diri sendiri. Mata hati dan indera kita tertutup karena sibuk dengan aneka hal yg bersumber dari ego. Sehingga ketika kita menghadapi situasi yg tidak ideal, kita mudah kehilangan iman, harapan dan kasih. Kita begitu rapuh dan mudah diombang ambingkan oleh aneka hal yg tidak perlu hingga kita tidak mampu melihat dengan jernih kehadiran Allah. Marilah di masa adven ini kita makin memurnikan hati untuk menyediakan ruang yg lebar bagi kehadiran Tuhan. Merelakan diri memandang realitas dari persepektif Allah yg mengetahui dengan pasti akan menjadi apa diri kita. Mari kita maksimalkan kemampuan kita mengembangkan diri sefrekuensi dengan Allah sehingga lewat akal budi kita bisa menata kehendak kita untuk mengembangkan ‘passion’ atau gairah kehidupan yg mengarah pada bertumbuhnya semangat kasih sukacita, damai sejahtera, kelembutan dan penguasaan diri.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk makin dekat menyelam dalam samodera kehidupan Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar mampu meletakkan kebahagiaan kita pada Allah saja.

Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mewujudkan pola hidup yg senantiasa dituntun oleh kehendak Tuhan.

Praying
Allah Bapa, kami bersyukur karena telah mencintai kami dan menjadikan diri kami berharga di hadapan-Mu, jangan biarkan kami hilang dari jangkauan-Mu oleh karena dosa dan kesombongan kami, namun bimbinglah agar kami makin peka untuk mengikuti kehendak-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *