SECERCAH HENING
Senin,23 September 2023
Luk 8: 16-18
Menyapa gelap dirimbunan senja,
Meliuk indah tanpa kata,
Bergegas tuk menepis dosa,
Menerangi dari kedalaman jiwa.
Yesus bersabda:
“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yg masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya, karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai,kepadanya akan diberi, tetapi siapa yg tidak mempunyai, dari padanya akan diambil”.
Sabda Yesus hari ini sangat tegas, soal cara kita mendengar. Ada ungkapan “seorang pembicara yang baik mengalir dari sikap mendengarkan yang mendalam”. Cara kita mendengar menjadi penentu gaya hidup dan kualitas kita. Bahkan kelimpahan hidup bisa dipengaruhi juga oleh cara kita mendengar. Mengapa kata mendengar menjadi sangat dasyat ? Siapa dan apa yg perlu didengar? Jelas sekali apa dan siapa yg didengar adalah Allah yg mempribadi dalam diri Yesus. Kata cara mendengar nampaknya mau menunjuk sebuah bentuk relasi yg khusus. Dua orang pribadi yg berelasi mendalam biasanya tidak butuh banyak omong tetapi banyak waktu saling mendengar bahkan hal yg tidak terkatakan.Orang yg matang dalam sebuah relasi akan menjadi pribadi yg terampil untuk medengarkan (listener person). Ketika bentuk relasi itu dengan Tuhan, maka buah dari ketekunannya untuk mendengarkan membuat pribadinya bercahaya atau menjadi cahaya ‘lumen’ cahaya mengambil wujud memberi warna kebaikan kepada siapapun dan dalam situasi apapun. Sikap mendengarkan membuat orang matang dalam hidup Rohaninya hasilnya tidak jauh dari buah buah Roh yakni: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kelemahlembutan, kesabaran, penguasaan diri. dll. Dan buah ini biasanya meluber di sekitarnya. Seturut kata bijak jangan menahan kebaikan bagi orang yg berhak menerimanya. Ketika kita berbuat kebaikan, sejatinya kita tak pernah kehilangan apapun tetapi justru membuka kran lebih lebar bagi rahmat Allah. Dan kepadanya kita akan berkelimpahan, minimal jika tidak, setidaknya kita masih memiliki rasa syukur dalam hidup.Sebaliknya jika kita menutup relasi, kurang punya kepedulian untuk mendegarkan Tuhan, maka sama saja kita tak punya cahaya yg bisa menyinari hidup, dan rahmat Allah tertutup dan semua milik kita diambil dari pada kita, hingga untuk bersyukurpun menjadi amat sulit. Semoga dengan Sabda hari ini kita makin rela menyediakan waktu, ruang batin, telinga hati, mata cinta, cahaya budi untuk mendengarkan Tuhan dalam keheningan. Hingga kita boleh menjadi cahaya yg menyinari hidup sekitar kita. Semakin kebaikan kita tebar, kita tak kehilangan apapun sebaliknya Tuhan yg melipat gandakan rahmat, karena Dia yg bekerja dalam semua kebaikan kita. Jangan takut untuk membiarkan diri dipeluk oleh kebaikan Tuhan yg meminjam hati kita untuk memulai dengan kebaikan- kebaikan kecil yg bisa kita lakukan.
Contemplating
Marilah heningkan jiwa, raga, rasa dalam keheningan agar kita makin dalam mendengarkan Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka mendengar Tuhan dalam menanggapi setiap realitas kehidupan yg makin bising.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin peka mendengar suara Allah dalam batin terdalam hingga menggerakkan kita untuk makin berkembang dalam kebaikan.
Praying
Allah Bapa, ajarilah kami sikap mendengarkan, hingga buahnya menyinari hati kami untuk mengembangkan kebaikan untuk mewujudkan buah-buah Roh sebagai ciri kepribadian kami. Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine
