SECERCAH HENING
Selasa, 24 September 2024
Luk 8: 19-21
Menari di ruang mimpi,
Mencintai tiada bertepi,
Berelasi tuk makin kenal diri,
Menjadi saudari oleh daya ilahi.
Di tengah kemajuan teknologi membuat relasi setiap pribadi di dunia maya makin marak, tak terbatas ruang dan waktu. Orang yg jauh menjadi sangat dekat, namun sebaliknya yg dekat bisa jadi amat jauh. Jika kita tidak hati-hati, warna relasi di dunia maya menjadi riskan penuh dengan kepalsuan dan bisa merusak kebenaran. Yesus dalam bacaan Injil hari ini, juga membuat sebuah ‘statement’ yg memberi inspirasi dalam memaknai relasi antar pribadi sebagai berikut :
“Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”.
Sabda ini sebenarnya keras dan bisa melukai hati jika dilihat dari hubungan manusiawi belaka, bagaimana tidak, kehadiran ibu-Nya dan saudara saudarinya seakan dianggap tidak ada. Dan bahkan bisa dipandang melanggar etika dan sopan santun. Namun yang mau ditekankan bahwa setiap orang beriman diajak untuk membangun persaudaraan antar sesama yg dijiwai oleh sabda secara nyata. Tidak cukup hanya menjadi pendengar tetapi pelaku sabda. Maka warna relasi persaudaraan antar pribadi dibangun bukan lagi untuk ngobrol atau ‘kopdar’ dan membuang jenuh, tetapi relasi yg diwarnai oleh sharing kehidupan yg berlandaskan sabda dalam realitas hidup. Kedekatan yg dibangun oleh inspirasi Sabda akan sungguh mempererat hubungan saudara, sebagai keluarga Allah sendiri. Jika keluarga-keluarga Kristiani mampu membangun warna relasi atas dasar kesanggupan mendengar firman dan perwujudannya, maka hubungan kasih akan makin dalam dan sanggup menopang aneka badai kehidupan. Serta dikuatkan untuk melewati setiap derasnya air mata menjadi untaian senyuman bahagia. Inilah wujud Kerajaan Allah yg hadir secara nyata. Maka pernyataan Yesus di atas tidak lagi bermakna penolakan terhadap keberadaan keluarganya, tetapi justru mau memberi makna lebih dalam dari sekedar hubungan darah. Marilah kita warnai relasi kita dengan siapapun atas dasar inspirasi dan buah dari kesediaan kita mendengarkan Firman Allah dan mewujudkannya, hingga hidup yg makin panas ini, bisa diwarnai dengan oase hadirnya sentuhan kesejukkan relasi yg penuh makna. Hati yg mengasihi Allah, membuat mata hatinya selalu melihat Allah yg hadir dalam diri sesama.
Contemplating
Marilah heningkan jiwa, raga, rasa dalam keheningan agar kita makin dalam mendengarkan Tuhan dan melaksanakan firman-Nya.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka mendengar Tuhan dalam membangun relasi dengan sesama atas dasar kedalaman memaknai sabda.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin peka menjalin relasi dengan sesama atas dasar kasih dan kebenaran.
Praying
Allah Bapa, ajarilah kami agar senantiasa terpikat untuk mendengarkan firman dan melaksanakannya, hingga setiap relasi yg kami bangun sesama kami, membuahkan kematangan, kebahagiaan dan keselamatan.Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
