Rabu, Prapaskah II 4 Maret 2026
Mat 20 :17-28
“Cita-cita”
Sigap mendayung harapan,
Menenun benang pengampunan,
Memeluk tiap duka bagai cawan,
Kikis cita tuk luruskan jalan.
Melukis kisah tiap waktu,
Berjuang meski hasil tak tentu,
Dayung hari tanpa bertopang dagu,
Gapai senja bersama Sang Waktu.
Mencintai dalam titian hari,
Merobek tiap kisah tuk dimaknai,
Air mata melukis dari hati,
Melayani kian indah di ujung hari.
Mengasihi tanpa kerelaan untuk menderita, maka cinta yg tumbuh akan terasa hambar. Keindahan cinta terletak pada ketulusan utk memberikan diri tanpa pamrih, dari sinilah kebahagiaan akan terpancar dari dalam dan kuat. Namun tidak semua orang mampu memahami jalan kebahagiaannya secara pasti, karena kebahagiaan sesungguhnya adalah rahmat yang tumbuh dalam proses. Maka setiap orang kemudian meraba-raba kebahagiaan masa depannya dengan menetapkan cita-cita.
Cita cita yang kita tetapkan tumbuh dari peluang, kesempatan, kondisi, keuangan, latar belakang pendidikan, koneksi dan mimpi. Cita-cita yang kita buat ada yang sangat realistis namun ada yang hanya karena mimpi sesaat tanpa ditunjang oleh perjuangan.
Booming sebuah gaya hidup tertentu, sering membius kita untuk membelokkan visi dan cita cita hidup. Rupanya cita-cita untuk menjadi bahagia itu jugalah yang mendorong ibu anak anak Zebedeus serta anak-anaknya meminta posisi kepada Yesus dalam Injil hari ini.
Yesus berkata:
“Apa yang kau kehendaki ? “Jawabnya: Berilah perintah supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu “. Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum.. “.
Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus rupanya menggunakan peluang dan kesempatan yang ada setelah tahu gaya hidup Yesus yang menjanjikan di masa depan, dan ketika Yesus menyiapkan resiko kematian-Nya yang akan segera tiba. Maka cepat cepat 2 murid ini dipesankan posisi di kemudian hari agar cita citanya tercapai untuk ikut berkuasa dan mulia bersama Yesus sebagai kelompok Ring I. Namun jawaban Yesus talak bagi mereka, karena mereka justru dinilai Yesus sebagai Orang yang tidak tahu apa yang diminta. Sampai akhirnya gambaran cawan yang harus diminumpun tidak dimengerti oleh mereka.
Pola pendidikan Yesus adalah hidup untuk melayani tidak ditangkap oleh para murid karena disilaukan oleh obsesi atau nafsu kekuasaan dan posisi. Apakah cita-cita hidup kita juga masih terobsesi oleh kebutuhan sesaat ?. Ataukah kita sudah mampu menangkap cawan kehidupan bersama Yesus dengan meletakkan cita-cita masa depan kita seiring dengan kehendak dan Jalan Tuhan?.
Untuk bahagia kita perlu berjuang mengenali setiap cawan yang harus kita lewati, dalam kebersamaan dengan perjuangan Yesus dalam hidup.
Jangan ragu untuk mencintai setiap detail perjuanganmu dalam hidup, nikmatilah, karena dari situ kebahagianmu akan mengakar .
Dan belajarlah menghayati cinta dalam kerelaan untuk memeluk luka, karena daripadanya kematangan rahmat Allah akan memelukmu.
Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cawan Tuhan untuk kita.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan agar makin peka menata kehidupan masa depan dalam rencana Tuhan.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin menyelaraskan cita cita kita dengan rencana dan kehendak Tuhan.
Praying
Allah Bapa, ajariah kami mampu untuk belajar akan kasih dan semangat-Mu menyiapkan jalan keselamatan bagi kami. Mampukan kami menata masa depan kami dalam rencana dan kehendakMu. Dalam Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

