SECERCAH HENING
Senin, 7 Juli 2025
Mat 9 : 18-26
“Memberi Hidup”
Tangan yang terjamah,
Terangkat yang lemah,
Titian hidup penuh hikmah,
Titik kritis di ujung waktu,
Menanti harap dengan jeritan bertalu,
Meraih tangan yang membiru,
Kunanti penyembuh yang jitu.
Pengalaman kematian selalu menyisakan kepedihan, kedukaan, kesedihan, keputusaasaan, bahkan ketika yang meninggalkan kita adalah orang yang sangat kita kasihi kadang bahkan ingin menukar jiwa, supaya ia tetap hidup. Demikian juga seperti yg dialami oleh kepala rumah ibadat. Datanglah seorang kepala rumah ibadat Ia menyembah Yesus dan berkata:
” Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tanganMu atasnya, maka ia akan hidup. “
Peletakan tangan bagi Yesus telah memberikan daya hidup bagi yang percaya. Karena kuasaNya menembus daya kematian manusiawi. Namun bisa jadi untuk kita saat ini arti kematian bukan hanya kematian jiwa dan badan meninggalkan dunia ini. Tetapi bisa jadi kematian rohani, kematian semangat untuk mengasihi, kematian untuk mengampuni, kematian untuk berjuang dengan penuh harapan, kematian untuk hidup penuh sukacita. Kematian untuk berkarya dengan penuh Cinta dll. Apakah kita senantiasa meminta dan membiarkan Yesus meletakkan tangan atas diri kita ?. Agar kematian-kematian kita di tengah kehidupan ini bisa dihidupkan lagi. Sehingga kita bisa sungguh-sungguh hidup dalam jangkauan tangan-Nya. Marilah kita menaruh diri kita di atas tangan-Nya. Agar kita senantiasa hidup di dalam semangat-Nya. Jangan takut jika mengalami hidup di titik kritis, peluk dan terima dan satukan dengan gerak hati yg tersungkur untuk memohon pada kuasa Yesus Sang penyembuh. Relakan tanganNya menjamahmu dan menghidupkan tiap titik kritis hidupmu.
Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka dan rela membiarkan Yesus menaruh tangan-Nya atas kita.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin mampu menghidupkan sisi-sisi kehidupan kita yg telah mati.
Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku dgn Yesus ? Ataukah banyak gaya tanpa makna hingga membuat kita mati di tengah hidup.
Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar jiwa kami mudah dibentuk oleh relasi kami dengan Yesus PuteraMu, hingga kami boleh mengalami kehidupan dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine, OP

