SECERCAH HENING
Rabu, 6 Agustus 2025
Luk 9: 28b-36
“Puncak Kehidupan”
Berbinar saat bermandi cahaya,
Rasa membubung di asa,
Cinta kian berbunga bunga,
Menawar di kemah penuh sukacita.
Siap menyusur di lembah duka,
Maknai titik batas dengan cinta,
Memeluk realita dgn jiwa terbuka,
Bahagia & duka ada di batas senja.
Setiap orang memiliki titik puncak kehidupannya yang berbeda beda. Ibarat hidup jika dilukiskan dalam sebuah grafik, masing-masing orang memiliki grafik tertinggi. Apa yang menjadi titik puncaknya ? masing-masing orang sangat berbeda. Ada yang meletakkan pusat atau puncak kebahagiannya pada: Karier, hubungan percintaan, kekayaan, sukses bisnis, keharmonisan suami isteri, kesejahteraan keluarga, kesehatan, sukses studi, kejuaraan lomba, kesuksesan karier politik, kaul, imamat, kesetiaan dengan pasangan, dll. Setiap orang bebas mengekpresikan puncak kebahagiaannya. “Urip kudu urup” hidup harus mampu mengobarkan api yang menyala. Seperti halnya Petrus sangat berkobar kobar saat menyaksikan kemuliaan Yesus, seperti dalam cuplikan perikop Injil hari ini:
“Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”.
Petrus sungguh sangat bahagia menyaksikan kebersamaan dengan 3 nabi besar dalam sejarah bangsa. Maka dia tidak ingin kebahagiaan itu sirna, tanpa tanda yang bisa dikenang di masa depan. Agar ia dapat terus bahagia, maka ia ingin mendirikan kemah untuk mengenang dan menghidupkan kembali pengalaman kebahagiaan yang dasyat itu. Namun rupanya Petrus tidak boleh lama-lama hidup dalam zona kebahagiaan itu, sekejab ia dipenuhi awan gelap dan tak melihat seorangpun, kecuali Yesus seorang diri dan selanjutnya mereka turun gunung lagi. Setiap kebahagiaan yang dianugerahkan kepada kita sebagai puncak kehidupan, selalu menawarkan pesan dan ajakan untuk kembali turun dalam kehidupan yang riil dengan energi baru yang ditimba dari kebahagiaan yang didapat. Petrus mengalami puncak kebahagiaan yang luarbiasa, karena setelah episode itu Petrus akan dihadapkan pada penderitaan yang sama dasyatnya saat harus mengkhianati Yesus, dalam menyongsong kisah penyaliban yang mengerikan. Namun Petrus bisa bertahan sampai akhir karena meletakkan puncak kebahagiaannya bersama Yesus.
Ajakan bagi kita apakah kita juga meletakkan pusat kebahagiaan kita dalam hubungan kebersamaan dengan Yesus? Ataukah kebahagiaan sesaat yang musnah sekejap, manakala kita dihadapkan pada lembah kehidupan yang gelap? Dalam bentuk: kegagalan, pengkhianatan, perceraian, dan sakit. Apapun pilihan pusat kebahagiaan yang kita pilih, marilah kita meletakkannya dalam hubungan kebersamaan dengan Yesus, agar kelak kita siap menghapi lembah kehidupan sesulit apapun. Namun tetap memiliki pegangan yang menyelamatkan. Janganlah putus asa, manakala saatmu sedang mengalami kedukaan, kegagalan maupun keterpurukan hidup. Peluklah situasimu dengan sepenuh hati, kenanglah saat saat bahagiamu. Hidupkan kembali energinya. Maka Tuhan akan menambahkan kekuatan yang ada padamu untuk hidup bahagia secara lebih bermakna.
Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan menawarkan kebahagiaan bagi kita
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan agar makin peka menangkap setiap realitas sebagai saat menimba kebahagiaan bersama Yesus.
Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin peka menangkap wajah Yesus dan kehendak-Nya.
Praying
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu agar makin peka menangkap tanda kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Karena Kristus Tuhan kami Amin.
Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine, OP

