SECERCAH HENING
Senin, 12 Oktober 2026
Luk 11: 29-32
Symbolic Way
Kudengar detak pertama
Dalam rahim belantara,
Bayang tanda pertama,
Nyaring d’ kehningn rasa
Kudengar detak pertama,
Hiasi suara keheningan,
Susuri arus kasih sayang
Saat kenal tanda pertama.
Kudengar detak pertama,
Dalam bayang2 senja,
Pelangi di ujung mata,
Buat hidup penuh rasa.
Kita ingat Alexander Solzhenistsyn seorang penulis dan sejarawaan dari Rusia (1918) dalam salah satu artikelnya berkesimpulan bahwa krisis kemanusiaan saat ini adalah hilangnya kepekaan akan tanda yang tak tampak. Tanda yang tak tampak yakni tanda ilahi. Dikatakan “Manusia telah kehilangan dimensi ilahinya. Inilah penyebab dunia menjadi lebih brutal dari pada masa primitif. Inilah gambaran dunia tanpa Bapa. Manusia kehilangan figur Bapa sehingga terus mencari tanda. Mengingat tidak mudahnya kita menangkap tanda tanda maka Yesuspun memberi tanda juga terhadap generasi kita yang di tuangkan dalam Injil hari ini:
“Angkatan ini adalah angkatan yg jahat. Mereka menghendaki tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikianlah Anak manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”.
Mari tetaplah bertumbuh dalam semangat iman. Karena tanda keselamatan kadang tidak hanya hadir dalam tanda yang ajaib dan spektakuler. Tetapi yang sederhana, biasa-biasa, tetapi hadirnya menginspirasi hidup dengan cara yang sederhana, namun memberi energi dan daya ubah yang luar biasa. Yesus sendiri bersabda angkatan ini tak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus yang hidup diperut ikan selama 3 hari dan disempurnakan oleh kehadiran Yesus selama 3 tahun berkarya di dunia dan 3 hari di makam gelap sebelum Ia bangkit. Dan setelah kebangkitan-Nya Ia hadir sepanjang hidup manusia melalui Roh-Nya. Namun apakah kita sungguh percaya? Jika percaya maka setiap hari Allah sesungguhnya telah menyusun scenario yang kadang amat lembut untuk menyapa kita. Karena Allah akan hadir tidak akan melampaui kemampuan kemanusiaan kita untuk menangkapnya. Tetapi Allah sesunggunya hadir setiap hari dalam film kehidupan kita yang nyata. Yang dibutuhkan dari kita adalah kepekaan mempertajam indera agar makin terbuka menangkap sensor kehadiran Allah. Dan cara mempertajam indera adalah keberanian memberi ruang hening dalam hidup, mengosong diri, membiarkan Tuhan masuk dalam kamar sempit diri dan ego kita, dan hadir menubuh dengan kemanusiaan kita. Dari waktu 24 jam yang ada setiap hari kita perlu memberi waktu yang adil bagi kehadiran Tuhan, bukan saat kita tidur tetapi justru saat kita terjaga dan sadar, supaya kita bisa menangkap tanda kehadiran Allah dengan jelas. Sehingga scenario peta perjalanan hidup kita tidak menyimpang dari rencana Tuhan.
Jangan takut meniti peta perjalanan kaki kita tiap hari, biarkan rasa kita bertumbuh dalam tiap titik perhentian, saat lelah, rapuh, lemah berhenti sejenak melambat rasakan tanda kehadiranNya yang ajaib.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin peka merasakan tanda kehadiran Allah.
Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin terbuka dan peka terhadap kehadiran Allah.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dan peka dibimbing oleh Roh yang menghidupkan.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg terbuka dan jiwa yg peka, agar hidup kami makin mengalami kepenuhan dan kebahagiaan karena mengenal Kristus yang hadir dalam tanda-tanda kehidupan setiap hari. Dalam semangat Kristus Tuhan dan juru selamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

