Jumat, Prapaskah III 13 Maret 2026
Mrk 12:28-34
“True love”
Cinta memahami segala.
Cinta mengubah yang ada
Cinta sejati tidak akan buta
Cinta menembus fatamorgana
Cinta sejati menurut Santo Thomas Aquinas berakar dari pandangan teologinya tentang cinta sebagai kehendak untuk menghendaki kebaikan bagi orang lain. Dalam bahasa latin ia menyebutnya: “Amor est velle bonum alteri”. Cinta adalah menghendaki kebaikan bagi orang lain bukan sekedar perasaan. Cinta sejati bertahan melalui komitmen dan tindakan nyata. Jadi cinta bukan hanya “merasa suka”, tetapi memilih untuk berbuat baik bagi orang lain.Tidak mudah memahami cinta sejati seperti itu, maka seorang ahli Taurat bertanya pada Yesus yang dikisahkan dalam Injil hari ini:
Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus:
“Hukum manakah yang paling utama? ” jawab Yesus:”Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri “.
Cinta sejati “true love” itu ada dalam hati setiap kita, namun bukan pertama-tama soal perasaan tetapi soal panca indera. Cinta adalah kehendak dan terutama kesanggupan untuk mendengar, jawaban Yesus atas pertanyaan ahli Taurat tidak mulai dengan trik jitu tentang hukum yang utama. Tetapi mulai dengan kata dengarlah artinya betapa pentingnya kita mendengarkan. Untuk bisa mendengarkan dengan baik pasti butuh suasana, jika dikeramaian pastilah kita tidak bisa mendengar. Maka cinta sejati tumbuh dalam kehendak untuk memberi ruang keheningan batin, jika cinta itu diarahkan pada Tuhan dan sesama. Dialog Yesus dengan ahli Taurat merupakan dialog tentang kesempurnaan atau kesejatian hidup. Bahwa kesempurnaan hidup hanya bisa dicapai ketika kita mampu mengelola energi cinta sejati itu dari Tuhan sebagai anugerah yang memampukan kita mencintai diri sendiri dan sesama. Hati yang penuh luka oleh sebab apapun akan sulit berdoa dengan segenap cinta kepada Allah, pun kepada diri sendiri dan biasanya buahnya melukai sesama. Maka yang perlu pertama tama kita mohon adalah agar hati kita disembuhkan dari luka luka yang membuat kita tidak bertumbuh sehat dalam cinta. Hingga kita mudah mendengarkan cinta Allah dalam hati yang bahagia. Jika hati kita bahagia, maka kita akan mudah mencintai diri dan sesama dengan cinta yang agung pada Allah. Trilogi cinta itulah “true love” Maka seorang pendoa yang mencintai Allah adalah pribadi yg penuh belas kasih dan penyayang sesama. Jika kita belum bisa mencintai sesama seperti diri sendiri setidaknya mari pertama-tama jadilah pendoa agar hati kita dipenuhi oleh aura cinta Allah.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin mampu mendengarkan suara Allah.
Actuating
Pola hidup macam apa yang perlu kubiasakan agar makin dekat dengan Allah yang penuh cinta.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin peka untuk menjadi pendoa agar hati dilembutkan untuk makin matang dalam cinta atas kehidupan ini.
Praying
Allah Bapa ajarilah kami senantiasa hidup dalam Roh cinta kasih, hingga seluruh hidup kami merupakan rangkaian kasih sayang yang membuat hidup kami makin berkualitas dan mengispirasi siapapun di sekitar kami untuk hidup dalam kasih. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

