Semangat Ekaristis

SECERCAH HENING
Sabtu, 11 Februari 2023

Mrk 8:1-10

“Semangat ekaristis”

Terbius tuas tuas Kasih,
Memvibrasi tanpa silih,
Membuka ruang asih,
Membuncah belas kasih.

Bangun dari kerentaan,
Senja dalam kepapaan,
Tergerak oleh sapaan.
Memberi dari ketiadaan.

Kasih adl hati u memberi,
Berbagi tiada henti,
Mengasihi identitas diri,
Senja berkisah tth hati.

Jangan cemaskan dirimu dengan riuhnya keinginan orang untuk mengejar apapun yg bisa didapatkan, tetapi bagimu tetaplah menjadi orang yg mudah berbagi karena engkau tidak akan menjadi miskin karena memberi. Seperti halnya
gaya hidup ekaristis yg ingin dipopulerkan oleh Yesus dan para murid-Nya dalam Injil hari ini demikian:

“Suruhlah orang-orang itu duduk di tanah. Lalu Yesus mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak…mereka ada kira-kira empat ribu orang. “.

Intensi dasar yg dilakukan oleh Yesus dan para murid dalam penggandaan roti bukan hanya soal perut lapar yang butuh dikenyangkan atau soal keuntungan maksimal yg semestinya didapat.Tetapi soal transformasi hati dan mental yang berbelas kasih.
Pertama:
Penggandaan dimulai karena passion of christ Yesus yg berbelaskasih terhadap orang banyak yg butuh makanan kehidupan.
Kedua:
Kerelaan mereka memberikan roti dan ikan yg kemudian diambil oleh Yesus. Ini bagian penting dari sisi kita yg kita miliki, yg menjadi (modalitas) bagi Yesus untuk dilipatgandakan.
Ketiga:
Yesus mengucap syukur atas pemberian dan penerimaan ikan dan roti diangkat yg mengandung arti dipersembahkan dan dikuduskan oleh kuasa ilahi.
Keempat
Dibagikan, artinya difokuskan kepada orang lain. Maka hasilnya berlipat-lipat ganda.
Keempat sikap dasar itu yg memungkinkan penggandaan terjadi karena ada kerelaan, penerimaan, syukur, dan keterbukaan utk berbagi. Mujizat ini terjadi bisa jadi bukan soal roti yg tiba-tiba melimpah ruah, tetapi semua orang yg datang sudah membawa roti itu untuk dirinya sendiri, dan ketika melihat passion Yesus yg telah membuka hati para murid yg mau berbagi. Membuat semua orang akhirnya terbuka hatinya untuk membagikan miliknya juga bagi orang lain. Kalau mereka satu orang membawa lima roti dan dua ikan, maka orang dewasa lainnya bisa jadi membawa lebih. Dan mujizat selalu terjadi dengan melibatkan sikap keterbukaan hati. Maka inti mujizat ini bukan soal rotinya, ikannya yang melimpah tetapi kerelaan hati setiap orang untuk hidup berbagi dengan yg lain. Menjadi kaya atau mengalami kelimpahan ternyata bukan karena seseorang hidup pelit tetapi karena keterbukaan hatinya atas karya Allah yg telah lebih dahulu memberi utk berbagi. Dan inilah arti ekaristi, hidup yang dibagikan. Seperti Tubuh Kristus yang dibagikan untuk hidup banyak orang. Maka Injil hari ini kita diundang Tuhan bukan untuk mengagumi sisa roti yg melimpah tetapi diundang utk menjadi manusia ekaristis yang hidup mau berbagi utk sesama.

Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan mengubah hati kita makin terbuka terhadap rahmat Tuhan.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menanggapi undangan Tuhan untuk berbagi.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin matang dan bertumbuh menjadi manusia ekaristis.

Praying
Allah Bapa, ajariah kami mampu untuk belajar dari setiap kesulitan hidup yang kami hadapi, hingga hidup kami makin terbuka dan kaya karena berbagi seperti teladan Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *