SECERCAH HENING
Selasa, 29 November 2022
Luk 10: 21-24
“Sikap Syukur”
Sukacita di kala fajar,
Meski wajah belum lejar,
Tawaran Kasih yg trus berpijar,
Karena kasihNya yg tiada tawar.
Kalau kita ditanya apa yang paling membuat kita bergembira dalam hidup?. Pasti banyak orang akan mengatakan bergembira ketika kita sukses dan berhasil dalam usaha, studi, karier, hubungan percintaan, dan memperoleh banyak apresiasi dalam hidup. Hal inipun meski dalam konteks yg berbeda juga dialami oleh para murid Yesus. Mereka bergembira dalam hidup karena telah berhasil menaklukkan kuasa setan dan kejahatan lain karena nama Yesus. Ini sama artinya bergembira karena sukses dala mengikuti jejak kuasa Yesus. Namun orientasi kegembiraan Yesus sangat berbeda dengan para murid dan kita semua.
Pada waktu itu bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata:
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu…”.
Yang membuat Yesus bergembira dalam Roh Kudus adalah karena para murid berbahagia bisa melihat apa yg sulit dimengerti oleh orang – orang besar atau Orang-orang kebanyakan yg mengunggulkan jasa baik dan kekuatan manusia.
Sementara Yesus mengajak kita untuk mengalami sukacita dalam hidup lebih dalam, yaitu pada :
1) Keterbukaan untuk mampu melihat apa yg tidak tersirat secara fisik manusiawi namun mampu menampilkan kemuliaan Tuhan.
2) Sikap syukur yang lahir dari kerendahan hati dan ketidakpantasan menerima anugerah, namun Tuhan melayakkkannya.
3) Sikap kagum atas karya Allah yg sederhana, namun mampu menarik jiwanya kearah pengalaman iman yg luar biasa. Dengan demikian orang yg bergembira dan bahagia menurut ukuran Yesus adalah orang yg hidupnya dipenuhi oleh rasa syukur hingga mampu memandang dan merangkul aneka warna kehidupan secara positif dan menginspirasi serta menarik jiwanya untuk memuliakan dan memuji Allah. Kegembiraan ini melahirkan inner beauty dalam hidup seseorang. Mata yg digunakan untuk memandang dunia adalah mata ketiga yaitu perpaduan matanya dan mata hati Allah. Semoga dengan sabda ini hati kita juga dituntun oleh Roh Allah hingga kita layak dan dimampukan memandang dunia kita setiap hari dengan mata ketiga yg diwarnai kasih.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin menyelami dan memandang dunia ini dengan mata Allah.
Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin terbuka melihat Allah dalam segala sesuatu.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dibimbing oleh suara Allah untuk makin percaya dan memuliakan-Nya.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami rahmat-Mu agar kami makin terbuka dan sanggup melihat Allah dalam segala sesuatu. Hingga pergumulan hidup segelap apapun tak akan memisahkan kami dari kasih Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
