The Power of Mercy

SECERCAH HENING
Rabu, 14 Agustus 2024

Mat 18: 15-20

Merindu di titian waktu,
Sesama jd cermin yg menyatu,
Belajar jatuh dan bertumpu,
Berbelas kasih jd penentu.

Tiada seorangpun di dunia ini hidup hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi mulai dalam kandungan, lahir, bertumbuh, berkembang menjadi dewasa hidup bersama orang lain ‘homo humini socius’ karena itu perkembangan dan kematangan setiap pribadi banyak juga ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan orang lain. Siapa kita juga ditentukan oleh dengan siapa kita bergaul. Persaudaraan yg baik tidak hanya menyetujui setiap tindakan kita, tetapi juga menegor kita manakala kita berbuat dosa atau kekeliruan yg membuat hidup kita hancur, dengan semangat belas kasih. Hal ini juga ditekankan dalam Injil hari ini:

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Dan lagi aku berkata kepadamu jika dua orang dari padamu meminta apapun juga permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”.

Persaudaraan yg baik teruji disaat kita jatuh dalam dosa, kesalahan dan kegagalan yang kadang membuat kita terpuruk, maka teguran yg kita terima kadang membuat kita tambah hancur, jika tidak dilandasi semangat kasih. Namun jika teguran itu dilandasi oleh cinta dan belas kasih dan kita terima juga dengan semangat kasih maka teguran itu menjadi sebuah pelukan atau rangkulan yg mampu meluluhkan hati dan meluruskan kembali sikap batin untuk hidup kembali secara baru. Dalam hal ini sungguh tidak mudah untuk menegur, maupun menerima teguran dari sahabat kita sekalipun, jika lahir dari sebuah ego karena bisa melahirkan dendam. Namun jika kita sanggup menerimanya dengan semangat Kasih, maka ia lahir dari kekuatan Roh Kudus dimana Allah sendiri hadir dan bekerja dalam keputusan kita, hingga teguran menjadi sebuah gerakan transformasi hati. Jika budaya kasih ini telah menjadi pola hidup kita, maka hati kita akan makin mudah dibentuk Allah, dan janjinya untuk mengabulkan permohonan kita. Keselamatan akan terjadi manakala integritas kita dibentuk oleh kuasa Allah yg hadir dan menuntun kita ke jalan kebaikan dan belas kasih melalui sikap pengampunan yg mengalir dalam pola hidup kita. Janganlah takut dan ragu untuk terus belajar berbelas kasih. Hingga manakala hidup kita jatuh terjerembab, kita akan dituntun oleh budaya belaskasih yg menyelamatkan.

Contemplating
Marilah kita heningkan seluruh kesadaran dan indera kita, kita dengarkan suara batin terdalam kita utk dekat dengan Allah sumber belas kasih.

Actuating
Membiasakan diri terbuka terhadap realitas, termasuk menerima teguran manakala kita jatuh dalam kesalahan. Dan bersyukur jika saudara kita rela menegur demi kebaikan kita.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dibentuk Allah ? termasuk teguran yg kita terima dari siapapun? Sebagai cara Allah mendidik kita seturut kehendak-Nya.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati seperti hati-Mu, agar kami rela dibentuk dan membentuk diri melalui setiap sapaan Kasih maupun teguran agar kami makin hidup pada jalan kebenaran-Mu, dan beroleh keselamatan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *