SECERCAH HENING
Jumat, 21 Oktober 2022
Luk 12: 54-59
“Peace Maker”
Menubuh dalam titian waktu,
Jalan terjal penuh liku,
Saat menuju derai Sang waktu,
Meneguk damai dlm titian itu.
Nafas bumi jadi energi,
Mengayun nafas lembutkan hati,
Konflik jd saat murnikan diri,
Menenun kisah suci tiada henti.
Sejak pandemi Covid-19 melanda di belahan bumi ini, secara khusus Indonesia sebagai negara kepulauan yg besar, yg kemungkinan paling sulit mencegah penyebarannya, maka semua orang menunjukkan passionnya dengan berjaga-jaga dan waspada dalam menerapkan protokol kesehatan. Semua dilakukan agar kita semua selamat. Namun kadang kita lupa bahwa keselamatan kita bukan pertama-tama usaha kita semata, untuk terbebas dari bahaya kehidupan ini, lebih-lebih perlu adalah punya passion agar kita terbebas dari kuasa dosa, kejahatan dan Permusuhan. Dengan berani terus berjuang menjadi animator perdamaian atau pembawa damai.
Seperti dilukiskan dalam sabda hari ini:
“Hai orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di perjalanan…”
Sabda ini keras, manakala menawarkan sebuah visi pendamaian. Bagaimana tidak orang disebut munafik jika hafal menilai tanda-tanda alam, namun buta terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di tengah hidup manusia. Allah selalu hadir dan bekerja dalam hati setiap orang yg mengutamakan semangat damai di atas permusuhan dan egoisme pribadi. Semoga dengan sabda ini, hati kita makin terbuka untuk menaruh perhatian dan passion terhadap tanda kehadiran Allah di atas kepandaian dan keterampilan menilai jaman ini. Jangan takut dan resah hatimu, jikalau perjalanan hidupmu menemui titian terjal yg penuh konflik, menepilah sejenak damailah dengan hatimu sebagai tangga pertama engkau perlu berpijak. Resapi setiap hal dengan penerimaan dan peluklah setiap luka dan perasan air mata dengan keheningan serta cinta yg dalam, niscaya Tuhan akan memelukmu dengan damai dan membimbing di setiap langkah pertamamu.
Contempating
Marilah kita satukan dan heningkan jiwa, raga, rasa dan hati kita agar makin peka terhadap tanda kehadiran Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menata kehidupan jiwa kita dengan mengembangkan sifat-sifat baik dalam hidup.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin matang dan peka terhadap kehadiran Allah dalam wujud keterbukaan untuk berdamai dengan sesama dan Tuhan.
Praying
Allah Bapa, ajariah kami memiliki hati yg peka agar makin terbuka menilai dan memaknai kehadiran Allah dengan berdamai dan mendamaikan sesama dan Tuhan, demi terwujudnya karya keselamatan dalam
Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
