SECERCAH HENING
Sabtu, 22 Oktober 2022
Luk 13: 1-9
” Saatnya Berbuah”
Meronta oleh tandusnya dunia,
Kerdil oleh hasutan nestapa,
Ranum karena mencinta,
Melimpah karena bahagia.
Saat sunyi jadi energi,
Menuang kekuatan ilahi,
Bertumbuh sempurna krn dikasihi,
Melimpah karena mencintai.
Bagi orang yg punya hoby berkebun, seperti yg saya nikmati tiap hari, akan tahu persis kualitas pohon dari buah yang dihasilkan. Banyak faktor yg menentukan kualitas buahnya namun yg paling pokok ada dua yakni kualitas bibit dan kualitas pertumbuhan selama pohon itu hidup, sedangkan faktor luar misalnya cuaca dan bencana tidak terlampau menghambat kulitas buahnya jika pertumbuhannya baik, kecuali pada kasus khusus. Demikian juga kualitas hidup orang beriman akan terlihat secara jelas dari buah kehidupannya. Yesus yg kesehariannya lekat dengan dunia pertaniaan mengajarkan dan mewartakan kualitas hidup para murid dalam potongan Sabda berikut :
“Tentang perumpamaan pohon ara dan pemilik kebun : Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini, dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini, untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah, jika tidak tebanglah! “.
Setiap orang beriman ketika dipanggil untuk mengikuti jalan Tuhan, tidak hanya diundang untuk hidup menikmati anugerah panggilannya, tetapi juga dipanggil dan diutus untuk berbuah dalam kehidupan. Buah kehidupan iman tiap orang berbeda, namun demikian diharapkan menghasilkan kualitas kehidupan yg tidak jauh dari kualitas benih yg ditanam Allah dalam diri kita masing-masing. Setiap orang beriman di tanam dalam kehidupan dari benih yg paling berkualitas dibanding dengan ciptaan lainnya yaitu dicipta secitra dengan Allah.Namun apakah kualitas pencitraan Allah telah disadari dan dipupuk dengan baik hingga bertumbuh dengan matang dan sempurna?, sering tidak semua orang menyadarinya. Yesus melalui perumpamaan ini mengajak kita menghasilkan buah kehidupan yg baik. Dan tiap saat adalah saatnya untuk berbuah. Buah yg diharapkan tidak selalu harus berlimpah tetapi buah yg membuat kehidupan ini makin manis dan enak dinikmati oleh sesama sekitarnya. Baik dalam sikap, tindakan, tutur kata, pekerjaan, pemikiran, belas kasih, pengampunan dan kemurahan hati. Buah kehidupan kita yg baik akan terlihat dari aura kehidupan yang positif dan menginspirasi. Tidak harus berwajah pemberian materi. Tetapi lebih lebih berwajah belas kasih. Sejauhmanakah kehadiranku mampu memancarkan wajah Allah yg membuat orang lain bersemangat dalam perjuangan kehidupan yg baik dan benar ?, serta meluluhkan yg keras dan membatu dengan hati yg berbalut kasih. Janganlah ragu dan takut untuk berbuat baik, sekecil apapun yg bisa kita buat. Jadilah dirimu pribadi bahagia dan hidup berkelimpahan oleh kasih sekarang, bukan nanti, maka kata katamu, pikiranmu, hatimu dan tindakanmu akan mengalir dari kelimpahan itu. Ucapkanlah rasa syukur senantiasa sebagai penghias bibir dan hatimu maka engkau akan bertumbuh dalam aura kasih. Jangan bekukan rahmat dengan hidup yg terus mengeluh dan mengaduh tiada guna.
Contempating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, rasa dan hati. Tarik nafas dan hembuskan dengan lembut, tersenyumlah dan sentuhlah hatimu. Rasakan damai dan pelukan kasih sayang Allah di hatimu.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar hidup makin berbuah kebaikan.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin matang dan hidup makin berkualitas karena melayani.
Prayer
Allah Bapa, penuhilah kami dengan cinta-Mu, agat kami memiliki hati yg damai dan murah hati sehingga hidup kami makin berkualitas serta berbuah kebaikan bagi sesama dan kemulian-Mu. Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
