Mendicantes

SECERCAH HENING
Minggu, 23 Oktober 2022

Luk 18:9-14

“Mendicantes”

Menepi di ruang hening
Menatap diri dgn mata bening
Biarkan hati jadi wening
Hingga rahmat Tuhan bersanding

Pernahkah terbayangkan oleh kita suatu saat bertukar nasib dengan seorang pengemis, dan pengemis menjalani peran atau nasib dalam hidup yg kita jalani?. Tentu spontan kita akan berpikir jangan sampai atau itulah nasib buruk yg ingin kita hindari dalam sepanjang sejarah keturunan kita. Namun rupanya tidak demikian peran kita dihadapan Allah. Sikap mengemis belas kasih Allah menjadi hal yg sangat berkenan di hati Allah. Bahkan ada sebuah ordo religius yg pada abad 11-12 didirikan sebagai mendicantes order yaitu ordo religius yg hidup dan kelangsungannya mengemis atau mengandalkan kemurahan hati orang lain. Medicantes (latin) = mendicant (inggris) artinya mengemis. Dalam Injil hari ini dikisahkan dua orang dengan sikap yg berbeda secara ekstrim dalam berdoa dan mengharap belas kasih dan kemurahan Allah.
Yesus menyatakan perumpamaan:

“Ada dua orang pergi ke bait Allah untuk berdoa, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai orang Farisi mengucap syukur bahwa dirinya tidak sama dengan semua orang lain: bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan hal baik lainnya. Tetapi pemungut cukai berdiri jauh, tak berani menengadah, melainkan memukul diri dan berkata :
“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Dan orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yg dibenarkan Allah”.

Ternyata sehebat apapun diri kita, sekuat, sepandai, sesehat, sekaya, sesuci apapun, tetaplah ketika kita berhadapan dengan Allah hanyalah seorang pengemis belas kasih Allah. Sikap ini bukan bermaksud mengecilkan usaha dan pengembangan kapabilitas talenta yg sudah diberikan Allah sebagai buah dari usaha kita. Tetapi sikap batin bahwa untuk berkenan di hati Allah dalam hidup kita, pertama dan utama hanya karena belas kasih Allah. Dan kalaupun hidup kita sukses, hebat, suci, kaya, berkuasa,dll itu semua titipan dari Allah semata, jika Allah tak menghendaki dalam sekejap, semua akan lenyap. Maka marilah kita berani menjadi pengemis dihadapan Allah, bukan sekedar pengemis biasa, tetapi pengemis militan yang senantiasa membangun sikap : sehati, sepikir, seperasaan, sekehendak dengan Allah. Sehingga kita mampu menjadi pengemis belaskasih Allah yang penuh harapan, sukacita dan bersikap rendah hati dan penuh hikmat dalam hidup di tengah masyarakat. Hal ini merupakan bentuk formasi sikap batin yg sulit, namun dengan kerelaan kita melepaskan ego, kita sanggup hidup makin rendah hati atau ‘manjing ajur ajer’ agar hidup kita bahagia dan berkenan di hati Allah bukan hanya ketika berdoa memohon berkat, tetapi dalam gaya hidup kita setiap hari.

Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin mampu mendengarkan suara Allah.

Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin dekat dengan Allah dan mengandalkan karunianya dengan rendah hati.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin rendah hati dalam hidup.

Praying
Allah Bapa ajarilah kami senantiasa hidup dalam Roh cinta kasih, hingga seluruh hidup kami merupakan rangkaian kasih sayang yg membuat hidup kami makin rendah hati, siap mengemis dan mengandalkan belas kasih-Mu dalam segala sesuatu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *