The Salvation Of Soul

SECERCAH HENING
Senin, 24 Oktober 2022

Luk 13: 10-17

” The salvation of soul”

Menubuh dlm hati yg rapuh,
Aliran sumsum tak meluruh,
Jiwa yg hampa kian lusuh,
Sekelebat sentuhan jd sembuh.

Tranformasi mengelupas rasa,
Tuas kasih ubah duka lara,
Sukacita warnai senja.
Terucap pujian tiada tara.

Pernahkah kita mengalami sakit yg cukup lama? Hingga kita merasa bosan dan putus asa karena sakit yg tidak sembuh-sembuh, meski berbagai pengobatan telah dilakukan?.Akhirnya kita berpikir secara keliru bahwa deraan penyakit yg kita alami adalah cobaan dari Tuhan. Dan pemikiran ini dimata rahmat tidaklah tepat, karena kadangkala justru dengan penyakit yg kita alami bisa jadi menjadi sebuah kesempatan mengalami lompatan rahmat yg luar biasa. Dan menjadi jalan yg efektif menyiapkan dan mengalami keselamatan jiwa yg sempurna. Seperti yg dikisahkan dalam Injil hari ini:
Ketika Yesus melihat perempuan yg sudah 18 tahun sakit punggung, ia memanggil dan berkata kepadanya:

“Hai ibu, penyakitmu telah sembuh”.Lalu ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah”.

Penyembuhan selalu melahirkan pujian kepada Allah,atau setidaknya setiap orang diajak untuk merefresh hidup dari kedalaman. Orang menjadi memiliki banyak waktu untuk menyadari kemahakuasaan dan kemurahan hati Allah dalam menyelamatkan jiwa kita. Hal ini sangat jelas dari sikap Yesus, aturan sabat dan kecaman dari tua-tua Yahudi tidak menyurutkan intensinya untuk menyelamatkan jiwa perempuan yg sudah 18 dihajar oleh roh yg bisa mematikan. Passion yg ditunjukkan Yesus yang ditanggapi dengan sikap yg tegar dan kerendahan hati, serta keterbukaan si perempuan untuk kemudian berdiri membuatnya mengalami kesembuhan total.Keselamatan jiwa yang sempurna dialami oleh si perempuan ditunjukkan dalam sikap yg responsif untuk spontan memuji Allah.Keselamatan selalu merupakan inisiatif Allah, namun tidak semua orang memiliki kepekaan dan ketegaran hati untuk sanggup menanggung derita yg tidak singkat sebagai prosesnya. Namun di atas semua pergulatan manusia itu, dari Injil hari ini, Yesus mau mengajari kita bahwa tidak ada penderitaan dan pergumulan serta pejuangan manusia yg sia-sia. Jika kita percaya dan gigih mendamba rahmat Tuhan, maka dipenghujung setiap perjuangan melawan sakit, penderiataan, kesulitan hidup dan apapun yg membuat orang terbelenggu dalam kekangan situasi yg sulit, pasti Tuhan akan memberi jawaban dari setiap harapan dan bahkan doa yg tak terkatakan sekalipun. Beranikah kita tetap percaya? Dan menjalaninya dengan gigih, berdiri dan memuliakan Allah dengan rendah hati. Janganlah ragu untuk berharap kepada Allah, dengan terus menjalin koneksi yg “ngeklik” dengan Allah. Hingga derita kita, titik batas kesedihan kita dan kerapuhan kita akan menjadi bagian Allah untuk merangkul kita dengan kesembuhan.

Contempating
Marilah heningkan jiwa, raga, rasa dan hati kita, rasakan kelembutan Allah lewat setiap nafas yg bisa kita hiruf dengan tenang dan rilek.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin tabah menghadapi setiap pergumulan hidup dengan tabah.

Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin matang dan menjadi orang yg percaya pada kemurahan hati Allah yg menyelamatkan.

Praying
Allah Bapa, ajariah kami memiliki hati yg terbuka dan tetap percaya pada penyelenggaran-Mu yg tiada batasnya, jadikanlah setiap derita kami menjadi jalan terbaik untuk menyelematkan jiwa raga kami dengan sempurna.Demi
Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *