Ad Maiorem Dei Gloriam

SECERCAH HENING
Senin,30 Januari 2023

Luk 5: 1-20

Ad Maiorem Dei Gloriam

Tapaki jalan berliku,
Kaki membujur kaku,
Lidah kelu tak berbaju,
Menanti sabda SangGuru

Terobos karang berbatu,
Teriak pilu & jeritan ragu,
Luluh oleh jiwa menyatu.
Membuat semua baru.

Tinggalkan senja kelabu,
Tuk merilis cerita baru.
Luruhkan rantai belenggu
Tuk ikut kisah Sang Guru.

Kita sering tidak banyak mengerti apa maksud Tuhan atas duka, kemalangan, penderitaan, sakit, kegagalan,kerugian dan bahkan kematian. Kita hanya bisa heran, terpana dan berserah. Demikian juga kisah pilu yang dialami oleh orang Gerasa yg kerasukan legion maupun para pemilik atau peternak yg ribuan babinya mati. Seperti dilukiskan dalam Injil hari ini:”
Ketika Yesus berjumpa dengan orang yg kerasukan roh jahat, ia berteriak:

” Apa urusanmu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi ? Demi Allah, jangan siksa aku!”….”suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkan kami memasukinya!”.Yesus mengabulkan permintaan mereka. Maka sekitar dua ribu babi terjun ke danau dan mati lemas. Hingga orang yg kerasukan duduk sudah berpakaian dan waras. Maka takutlah mereka.”

Kita sering terkecoh dengan paham perjanjian lama bahwa penderitaan dan kemalangan hidup adalah akibat dosa.Namun tidak demikian perjanjian baru memiliki pesan tersendiri bahwa aneka penderitaan hidup dijadikan saat kuasa Allah dinyatakan. Dan keterbukaan untuk belajar menerima pengalaman pahit, penderitaan dan kegagalan dengan rangkulan kasih dan pengampunan, menjadikan pengalaman pahit adalah saat kemuliaan Allah dinyatakan ‘ad maiorem dei gloriam’. Namun kita tahu prakteknya tak semudah itu, kita menerima pengalaman pahit itu sebagai saat memuliakan Allah. Yang terjadi bisa saja kita mengutuki Allah atau menjauh dari rangkulan Allah. Belajar dari orang Geresa yg disembuhkan Yesus, ia waras kembali tak banyak tingkah kecuali :
stop (ning-nang-nung) atas hidupnya kemudian look menyaksikan Tuhan bekerja dengan kuasa ilahi yg menakjubkan dan
coming home pulang kembali ke rumahnya untuk hidup baru, dimana seluruh aspek diri dan hidupnya diabdikan untuk kemuliaan Allah yg lebih besar atau saat ber- Laudare memuji Allah dengan sikap hidup,tutur kata dan bertindak selaras dengan tuntunan Allah yg telah menyentuh, merangkul dan hidup didalam dirinya secara nyata. Dan kitapun diundang juga untuk memuliakan Allah. Namun untuk hal itu kita tak harus kerasukan setan, cukuplah bagi kita hidup makin dekat dengan Allah dan berbuah selaras dengan situasi hidup kita. Jika kita tidak bisa berbuat kebaikan setiadaknya janganlah kita menebar kebencian. Mari merelakan diri bentuk Allah lewat pengalaman hidup tiap hari, biarkan Tuhan menaruh kata yg benar dan lembut dlm setiap perkataan kita, menuntun tangan kita untuk mengerjakan karya yg berkenan bagiNya dan kaki untuk melangkah di jalan lurus yg ditunjukkanNya.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyelami relasi yg dalam dengan Yesus.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar makin memuliakan Allah dalam hidup keseharian kita.

Reflecting
Semangat pembaharuan apa yg akan saya wujudkan untuk makin memuliakan Allah dalam hidup.

Praying
Allah Bapa yg penuh kasih, kami bersyukur atas sabda Yesus yg hidup dan menginspirasi perjalanan kami, untuk makin percaya dan matang mengikuti jejak hidup-Nya. Memuliakan-Nya tiada henti dalam hidup dan karya kami.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *