Tertatih di lorong sunyi,
Tengadah dlm keterbatasan diri,
Menunggu yg tak pasti,
Belajar tulus & rendah hati.
Bertumbuh karena mencintai
Bahagia krn melayani,
Menjadi suci krn mengabdi,
Semua yg rapuh jd berarti.
Kita sering mendengar ungkapan anak adalah harta yg tak ternilai. Harta yg dimaksud pasti bukan soal harga nominal, tetapi nilai sebuah keberadaan. Dalam diri anak ada banyak keajaiban karya Allah. Maka dalam dunia psikologi anak ada masa “golden age” masa emas yakni anak mulai dalam kandungan sampai usia 1000 hari atau kurang lebih dua tahun adalah usia dimana pertumbuhannya berharha bagai emas. Perlu mendapat perhatian yg terbaik agar pertumbuhannya maksimal. Maka saat itulah saat yg paling tepat dikenalkan apa yg paling berharga dalam hidup orang dewasa yakni pengenalan akan Tuhan. Maka Yesuspun sangat mendukung dasar kehidupan yg paling hakiki bagi setiap anak hinggaYesus berkata:
“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga. “.
Anak kecil identik memiliki jiwa yang suci, yang berasal dari warisan kesucian Allah sendiri dalam hal : ketulusan hati, kejernihan budi, kebersihan nurani dan kepolosan sikap dan kesahajaan tindakan itulah yg ingin ditumbuhkan oleh Yesus.
Pertumbuhan alami setiap anak akan sangat bermakna jika di peluk dan dikenalkan tentang pengalaman akan kasih Tuhan.
Kepolosan sikap, kebersihan nurani dan kesahajaan tindakan menjadi tanda kesucian
yang diharapkan juga dimiliki oleh setiap orang yang ingin masuk dalam Kerajaan Surga. Kerajaan surga tentu bukan hanya saat kita meninggal tetapi pengalaman Allah yg bisa dirasakan dan meraja serta menuntun dalam hidup setiap hari.
Apakah kita telah memurnikan diri tiap hari dengan kesucian yang diharapkan Tuhan ?. Jika belum marilah kita saatnya belajar dari kemurnian hidup seorang anak kecil….yg jujur, apa adanya, polos, tidak neko-neko dan memandang aneka peristiwa dengan sikap yg sederhana. Kenyataan dan kemajuan dunia saat ini, seringkali menjauhkan kita dari kesederhanaan hidup. Namun hanya dengan bersikap seperti anak kecil kita akan sanggup menghayati hidup ini dengan wening dan rendah hati, mensyukuri dan memdekati Allah dengan penuh syukur.
Janganlah takut menjadi kecil dan tak dihiraukan, namun manakala kita tulus, kita akan memandang Allah yg memeluk kita dengan kedamaian hidup, yg memampukan kita sanggup menjalani hidup ini dengan penuh syukur.
Contemplating
Mari kita heningkan seluruh diri kita, hadir untuk makin menyadari kehadiran Tuhan dalam keheningan.
Actuating
Membiasakan diri hidup murni dan tulus apa adanya
Reflecting
Memandang semua peristiwa hidup, sesuai cara Allah memandang.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg tulus dan murni seperti anak kecil, dan berani mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Mu Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
