SECERCAH HENING
Jumat, 10 Maret 2023
Mat 21: 33-43.45-46
“Communal Discernment”
Mendamba sapa lembut dariMu,
Tergores jarak oleh dosaku,
Hambur waktu bersama sesamaku,
Jadi penggarap yg kehilanganMu
Senja hilang tanpa usapan cinta,
Saat bersama tak hiraukan makna,
Asyik menelikung dosa,
Kematian mengiba tanpa sapa.
Biarkan tiap kebersamaanmu dengan sesama menjadi saat Tuhan menitipkan kebaikan dalam pikiranmu, bibir, dan tindakanmu.
Meskipun kadangkala kita tergoda saat kumpul menjadi saat ngobrol panjang, yg tak disadari membawa kita pada suasana “black happiness”. Tanpa direncanakan terjadi pembicaraan yg membawa kematian. Kematian bukan soal nyawa, tetapi kematian benih benih kebaikan. Saat inilah kita kehilangan suasana “communal discernment” dimana saat bersama yg lain semestinya menjadi saat menggagas dan berdisposisi tentang terwujudnya Roh Kebaikan.
Maka tepatlah jika Yesus hari ini menyampaikan suatu perumpamaan yg keras kepada kita karena hidup kita sering jauh dari aura pertobatan dan pertumbuhan sikap kekudusan.
Sehingga Yesus berkata tentang perumpamaan ini:
“Tuan tanah menyuruh hambanya kepada penggarap-penggarap kebun anggur untuk menerima hasil yg menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu:mereka memukul yg seorang dan membunuh yg lain termasuk Anak tunggalNya”.
Penggarap-penggarap tanah ketika berkumpul dan berjumpa tuan tanah, semestinya menjadi saat berdiskusi bagaimana melipatgandakan hasil panen yg kelak bisa dibagi bersama. Hingga kesejahteraan bersama terpenuhi. Namun justru yg sebaliknya terjadi, berkumpulnya para penggarap malah menjadi saat merancang pembunuhan anak tunggal pemilik kebun anggur.
Sebuah potret kehidupan kita, manakala hidup itu terlampau jauh dari pemilik kehidupan ini maka akan rentan dengan kecenderungan jatuh pada kuasa kejahatan, sehingga sulit kebersamaan itu yg semestinya menjadi saat melipatgandakan buah buah kebajikan sebagai saat ‘communal discernment’. Kematian demi kematian akan terjadi, kematian yg dimaksud adalah meredupnya sinar-sinar kehidupan Allah. Kematian juga mengambil bentuk memudarnya budaya kasih, terpisahnya jarak relasi antar sesama sebagai relasi yg saling meneguhkan, saling memeluk dalam aura pengampunan.
Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,agar mampu mendegar suara Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka menata menata kehidupan dengan sikap militan menyikapi kerasnya kehidupan ini.
Reflecting
Belajar membiarkan Tuhan menjadikan saat kebersamaan menjadi saat bersama sama menerima Tuhan yg hadir.
Praying
Allah Bapa, ajarilah kami mampu untuk belajar akan kasih dan semangatMu menyiapkan jalan keselamatan bagi kami. Mampukan kami menata masa depan kami dengan sikap militan dalam mengimani Engkau melalui hidup harian kami. Demi Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
