SECERCAH HENING
Senin,12 Desember 2022
Mat 21: 23-27
“Hidup dari kedalaman”
Meraba tuas kelembutan,
Menyelam masuk keheningan,
Menerawang kesamaan,
Memeluk aneka perbedaan.
Ia tampil sunyi,
Memberi energi,
Meski tak dimengerti,
Memvibrasi dosa menepi.
Jangan takut untuk percaya dan mengandalkan Allah tanpa ragu . Pernahkah kita mengalami bahwa hal-hal sepele dalam hidup kita dipermasalahkan?, atau kita sendiri mempermasalahkan menjadi sesuatu yg bisa menggeser esensi kehidupan yg lebih dalam ?, hingga akibatnya membuat hidup kita makin dangkal dan berantakan?. Kita sendiri menjadi kehilangan Roh yang membuat hidup kita kurang memancarkan kebaikan Allah. Rupanya kenyataan itu juga dialami oleh Yesus seperti dikisahkan dalam Injil hari ini.
Ketika Yesus sedang mengajar di bait Allah berkatalah imam-imam kepala dan tua tua Yahudi kepada Yesus:”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? dan siapakah yg memberi kuasa kepada-Mu?”
Keilahian Yesus yg mampu mengajar di bait Allah dengan memukau dan menginspirasi kehidupan umat, bukan menjadikannya saat untuk berefleksi dan mematangkan diri. Tetapi bagi para imam kepala dan tua tua Yahudi, justru malah diragukan dan dipermasalahkan untuk dijadikan bahan yg mendiskreditkan peran dan kuasa Yesus. Kenyataan ini sekaligus menjadi sebuah gambaran, bahwa pola hidup yg biasa di permukaan atau hidup yg dangkal dangkal saja, membuatnya kurang mampu melihat karya Allah yg lebih dalam. Pola reaksi yg muncul menjadi mudah berbicara dan lambat untuk berefleksi dan mengambil makna terdalam dari realitas. Padahal karya Allah kadangkala hanya bisa dipahami oleh kacamata kedalaman. Kacamata kedalaman adalah cara pandang yg ditimba dari hubungan yg mendalam pula dengan Allah. Titik poin dari kedalaman hidup adalah mampu memandang sesuatu sesuai cara pandang Tuhan, maka tidak mungkin kita akan memiliki frekuensi yg sama dengan Allah jika kita tidak pernah bergaul akrab dan intim dengan Allah. Cara kita bergaul dengan Allah perlu diberi tempat dan waktu lewat keheningan dan penyadaran.Semoga kisah Injil hari ini mengispirasi kita menyiapkan perayaan kelahiran Tuhan dengan memperdalam hubungan intim dengan Allah, supaya kita mampu memiliki cara pandang hidup yg lebih mendalam. Sebab jika kita hidup dipermukaan, kita akan kelelahan menggarap dan menanggapi hal hal sepele yg justru merapuhkan sendi-sendi hidup dan sukacita kita. Sebaliknya jika hidup kita mengakar kuat pada Allah, kita tidak mudah diombang ambingkan oleh kenyataan apapun. Hingga seburuk apapun situasi hidup kita, kita sanggup menerima dan menanggungnya dengan sabar, tenang, damai dalam penyerahan pada scenario Allah.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyambut kelahiran-Nya dengan relasi yg makin erat dengan Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar siap membersihkan diri utk bisa bertemu rasa dengan Allah.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mewujudkan pola hidup yg senantiasa dituntun oleh kehendak Tuhan.
Praying
Allah Bapa, kami bersyukur karena telah mencintai kami dan menjadikan diri kami berharga di hadapan-Mu, jangan biarkan kami hilang dari jangkauan-Mu oleh karena dosa dan kerapuhan kami, namun bimbinglah agar kami siap menyambut situasi apapun dengan hati yg sabar, hidup yg lebih tenang serta mendalam Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr.Albertine.OP
