Kepekaan Rasa

SECERCAH HENING
Minggu,11 Desember 2022

Mat 11: 2-11

“Kepekaan rasa”

“Dari mata turun ke hati, dari telinga menerangi budi”.
Istilah itu mengungkapkan betapa dasyatnya penglihatan dan pendengaran. Dari kedua indera tersebut mampu mengubah hidup dan orientasi cinta dan kasih sayang seseorang”.
Disadari atau tidak kita sering mengalami bahwa ketertarikan kita terhadap seseorang bisa diawali dengan melihat wajah dan profilenya dan juga diperkuat dengan mendengar suara passion dan kisah hidupnya. Hal yg sama juga dipakai oleh Yesus untuk menjelaskan tentang misi penyelamatannya bagi dunia dengan mengajak para murid melihat dan mendengar seperti dalam. injil hari ini.

Yesus menjawab pertanyaan murid-murid Yohanes: “Engkaukah yg akan datang ataukah kami harus menantikan yg lain? “.Jawab Yesus:”Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yg kamu dengar dan kamu lihat : Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan khabar baik, dan berbahagialah orang yg tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

Mata dan telinga menjadi indera terpenting untuk bisa memandang dan mendengar kehendak Allah dan manifestasi cinta-Nya bagi kita. Kehadiran Allah tidak serta merta bis kita tangkap manakala kita tidak memiliki cara memandang dan mendengar kehendakNya dalam kehidupan harian kita yg sederhana. Jika kita memiliki kepekaan rasa atas apa yg kita lihat dan mendengar dengan nyaring suara batin kita kita akan mudah bertemu Allah dengan jiwa yg kagum dan syukur. Kagum dan syukur manakala kita sakit dan menjadi sembuh. Manakala kita jatuh dan bisa bangun lagi. Manakala kita menganggur dan mendapat pekerjaan. Manakala kita patah hati dan mampu mencintai. Tanda Allah yg nyata bukan sesuatu yg di luar diri kita tetapi yg terjadi pertama tama cara kita memandang kehidupan dan mendengar. Ketika mata kita selalu buram dan hati kita selalu mendengar yg negatif itu atas segala realitas itu tanda bahwa mata dan telinga kita belum mampu menembus cara pandang Allah. Sebaliknya jika kita mengalami realitas terburuk sekalipun namun mata kita mampu menemukan cara pandang yg positif denga n mendengar hal yg menginspiratif utk hidup penuh syukur itulah tanda kita telah bertemu rasa dengan Allah. Semoga inspirasi dari sabda hari ini memampukan kita sanggup melihat dan mendengar sefrekuensi rasa dengan Allah.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyambut kelahiran-Nya dengan relasi yg makin erat.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar siap membersihkan diri utk bisa bertemu rasa dengan Allah.

Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mewujudkan pola hidup yg senantiasa dituntun oleh kehendak Tuhan.

Praying
Allah Bapa, kami bersyukur karena telah mencintai kami dan menjadikan diri kami berharga di hadapan-Mu, jangan biarkan kami hilang dari jangkauan-Mu oleh karena dosa dan kesombongan kami, namun bimbinglah agar kami siap menyambut kelahiran-Mu dengan hidup yg pantas dan sepandangan dan sependengaran dengan Allah dalam Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *