SECERCAH HENING
Sabtu, 2 November 2024
Peringatan arwah
Yoh 6 : 37-40
Titian hari akan sama,
Menanti temaram senja,
Namun jika saatnya tiba,
Aku akan bersukacita.
Titian hari akan sama,
Saat menenun busana jiwa,
Mengisi ruang hati dgn sukacita,
Menuju kepastian yg bahagia.
Gereja hari ini merayakan arwah semua orang beriman.
Setiap mendoakan atau mengenangkan para arwah saya selalu teringat pepatah latin mengatakan: “hodie mihi cras tibi” artinya hari ini saya, besok anda. Kematian menjadi begitu akrab dan dekat dengan kita bukan karena budaya kita kurang care terhadap prosedur keselamatan, tetapi betapa kehidupan kita bisa begitu singkat. Rahasia kematian tidak mengenal sebab, usia, tempat, cara dan waktu.Usia berapapun, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun bisa membawa kita pada kematian. Dan kapanpun Tuhan memanggil kita tak punya kuasa untuk menolaknya. Namun kita harus bersyukur memiliki harapan akhir yg memberikan kepastian kemana dan kepada siapa jiwa kita akan berlabuh.Dan pada satu saat menjadi tempat kerinduan kita berlabuh. Seperti dalam Injil hari ini Yesus bersabda kepada penjahat yang disalib bersama Dia dan memohon belas kasihNya:
“Aku berkata kepadmu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”.
Momentum peringatan seorang arwah orang beriman memberi ruang dan waktu untuk menghadirkan kembali nilai peziarahan bersama di dunia menjadi makin bermakna. Bahwa hari ini bisa jadi orang lain meninggal dengan cara yg tidak disangka-sangka, dan mungkin nanti atau besok kita yg digilir juga untuk menghadap Tuhan. Saat kematian menjadi sesuatu yg tidak menakutkan lagi ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidup dan kematian kita. Ketika kita lahir disambut dgn sukacita padahal akan memasuki hutan belantara dosa dunia, maka saat menyambut kematian semestinya kita makin bersukacita lagi karena dunia yg akan dimasuki adalah dunia yg hidup seperti malaikat. Namun kepastian itu butuh proses, kemanusiaan kita sering menghalanginya, maka kita perlu memberi waktu menyiapkan diri dan menyadari terus menerus bahwa ‘hari ini anda besok bisa saya’ dipanggil Tuhan, dengan mendoakan orang-orang yg kita kasihi yg sudah meninggal agar mereka dilayakkan Tuhan boleh hidup dalam sukacita abadi di surga. Kita yakin saat mengenang kematian mereka adalah saat ‘dies natalis’ kelahiran mereka di surga. Marilah kita isi hari hari hidup kita dengan kebaikan dan kasih karena kita tidak tahu hari ini mungkin adalah saat terakhir kita. Mari kita sambut kematian kita dengan sukacita karena kita akan lahir baru di surga dan yakin bahwa Kristus akan menyambut kita di ujung jembatan hidup kita, jika kita hidup menurut kehendak-Nya. Janganlah takut menyambut kematianmu menjadi saat-saat terindah, untuk menyiapkan diri berjumpa dengan mempelai Kristus. Saatnya berdandan dengan busana rohani melalui hidup yg selaras dengan frekuensi Allah. Mulailah dengan merintis kebaikan-kebaikan kecil yg kita buat dengan cinta yg tulus, dan biarkanlah Tuhan menyempurnakan dandanan kita dengan kasih dan kerahimanNya.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan seluruh kesadaran kita masuk menyelami saat kematian kita dan dian di rahim Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah untuk memaknai hari ke hari dengan kebaikan dan kasih sebagai jalan menuju kematian yg bahagia.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah memperlihatkan pertumbuhan dan aroma keselamatan karena mengkuti Kristus jalan kebenaran dan hidup.
Praying
Allah Bapa di surga, kami bersyukur dengan Sabda-Mu hari ini, kami makin memiliki kepastian bahwa didalam Engkau jiwa kami tak akan hilang karena kematian.Namun kematian kami adalah saat menikmati keselamatan yg Engkau janjikan.Karena Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

