Identitas Yesus

Luk 4: 31-37

Terpana dalam balutan rasa,
Kagum oleh lembutnya cara,
Menginspirasi tanpa kata,
Simple utk kekudusan sempurna.

Utuh dalam kesaksian nyata,
Menghardik tnp memperdaya,
Kekudusan ada dlm barisan kata,
Penyelamatan dgn pelukan Cinta.

“Aku tahu siapa Engkau Yang Kudus dari Allah”

Cuplikan kata-kata ini keluar dari mulut seseorang yg kerasukan setan. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah anekdot jika ingin mengetahui identitas kita, kualitas pelayanan kita, sepak terjang kita dalam keseharian, sesungguhnya akan terbaca dengan jelas pada orang orang yg secara normatif kurang bersimpatik dengan kita. Contoh seorang ibu yg bekerja di suatu tempat jika ingin mengetahui kulitasnya, jangan bertanya pada bapak-bapak atau pemuda yg bersimpatik kepadanya, tetapi tanyalah pada gadis atau sesama ibu-ibu yg berseberangan paradikmanya.Sebaliknya jika mau bertanya tentang kualitas hidup dan kinerja seorang bapak, jangan bertanya kepada ibu-ibu tetapi bertanyalah kepada Bapak-bapak yg kadang oposit sikapnya. Kebenaran tentang identitas diri seseorang akan terpantul dan terbaca oleh siapapun lewat gaya hidup kita. Demikian juga identitas dan kuasa Yesus terbaca secara gamblang justru oleh orang yg kerasukan setan sekalipun. Identitas itu lahir, di bentuk, dihidupi dari pilihan nilai, passion, orientasi, dan visi hidupnya. Kalau kerasukan setan saja mampu melihat dan menyatakan kebenaran iman dan kebenaran pengetahuan tentang keberadaan Yesus sebagai yang kudus dari Allah. Bagaimanakah dengan kita ? Apakah kita mampu juga melihat keberadaan Yesus yg kudus dari Allah.Kekudusan Yesus yang kita imani membawa ciri kesaksian yang hidup yg penuh kuasa Roh Kudus, dan hikmat Allah. Dimana kata-kata dan tindakannya menumbuhkan pengharapan, kegembiraan, sukacita dan memberi kehidupan bagi banyak orang. Semoga kesaksian dan identitas hidup-Nya mendorong dan menginspirasi kita untuk hidup seturut semangat-Nya. Indentitas yg kita bentuk adalah proses panjang, dari upaya kita membatinkan dan memeluk setiap pengalaman atau realitas sebagai pengalaman perjumpaan antara aku “real self” dengan Tuhan. Perjumpaan yg intens dan sangat personal akan membius seluruh pikiran, perasaan dan perilaku kita mirip dengan gerak hati Allah. Maka kita tidak akan memahami kekudusan Allah, jika kita tidak sering berjumpa dan saling “memandang” dalam cahaya kontemplasi tentang Allah. Mari jangan gelisahkan hidup ini, dengan melihat dunia realitas dengan satu pandang bisa mengacaukan pikiran dan hati kita, sebaliknya mari kita memandang Allah dalam segala sesuatu, dan segala sesuatu dalam Allah. Hingga hati kita makin tervibrasi untuk memandang segala sesuatu menjadi pegalaman yg menguduskan.

Contemplating
Mari kita heningkan seluruh diri kita. Tarik nafas perlahan. Sadari setiap tarikan nafas adalah saat menimba belas kasih dan kekudusan Tuhan. Biarkan Tuhan mengisi ruang batin kita.

Actuating
Membiasakan diri hidup dengan membuka diri terhadap bimbingan Roh hikmat.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dan rendah hati meneladan hidup dan visi Yesus.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yang damai, agar kami mampu mengembangkan kepekaan untuk mengalami kehadiran-Mu tiada henti, demi keselamatan kami
Karena Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *