SECERCAH HENING
Selasa, 15 Oktober 2024
Luk 11: 37-41
Merayu jiwa di lorong sepi,
Menapaki hidup dititian hati,
Menimbang rasa dari titik sunyi.
Hidup terpancar dari kedalaman hati.
Hidup di era visual saat ini, orang yg baik adalah orang yang “good looking”, glowing bukan hanya indah dan enak dilihat tetapi juga yg ‘fashionable’ penampilan yg kekinian. Dan itu berarti yang penampilannya indah. Penampilan yg baik bisa menjadi sebuah ‘loving memeories’ yg layak terus dikenang, hingga dunia selfie dan update status di media, menduduki rating yg tinggi dalam menopang kebahagiaan atau sosialitas seseorang. Realitas semacam itu ternyata juga sudah ada pada jaman Yesus meski dalam konteks yg berbeda. Namun melalui Injil hari ini Yesus menunjukkan sikap yg keras terhadap pola hidup yg mengagungkan penampilan luar semata. Seperti dalam sabda berikut:
” Kamu hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yg menjadikan bagian luar, Dia juga yg menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”.
Hidup yg sejati bagi Yesus bukan kamuflase hanya memperhatikan penampilan luar yang bisa rusak seketika saja. Tetapi yg lebih penting adalah kedalaman hidup yg memberi energi kuat inner force dan memantulkan kesejatian. Keutamaan hidup seseorang bukan hanya diukur dari penampilan luar yang dipoles dalam ketaatan kaku terhadap aturan tetapi keutamaan hidup yg dibangun dari relasi yg kuat terhadap sumber kebenaran dan kasih. Hingga pantulannya menghasilkan pola hidup yg luwes dan “manjing ajur ajer” bahasa jawa yg artinya ramah, rendah hati, sederhana dan tulus dalam menyikapi realitas kehidupan atau ‘kasunyataning urip’. Keutamaan hidupnya dibangun dari kesetiaan menjalani hidup dengan ketulusan. Dan ini energi yg dibangun dari kedalaman hati yg hening, wening, buah dari merenung dan memaknai segala sesuatu agar hidup makin ‘dunung’ atau hidup yg bersahaja. Semoga dengan Sabda hari ini, pola hidup kita makin semeleh, sederhana, tulus dan bersahaja yg merupakan buah dari kedalaman hidup. Hidup apa adanya tidak ‘neko-neko’. Jangan gelisahkan hatimu dengan aneka hal untuk sekedar memenuhi keinginanmu, tetapi hiduplah apa adanya, yg mengupayakan hanya apa yg paling kita butuhkan. Saat tertentu kita perlu mengambil jarak dan menepi dari hiruk pikuk kepalsuan hidup dan menyelami hidup ini dari keheningan yang membuat hati damai agar dapat menyikapi hidup dengan lebih jernih.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin menyelami dan memandang dunia ini dengan mata Allah.
Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin memiliki gaya yg sederhana.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin memiliki gaya yg bersahaja.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami jiwa yg terbuka dan telinga hati yg rela mendengarkan bisikan-Mu, agar hidup kami makin mengalami kepenuhan dan kebahagiaan karena memiliki gaya dan kualitas hidup menurut ukuran Yesus Tuhan dan juru selamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
