SECERCAH HENING
Selasa, 27 Agustus 2024
Mat 23: 23-26
Lembut oleh balutan kasih
Tumbuh dalam sikap asih,
Matang dalam memberi silih
Menerangi dengan jiwa bersih.
Yesus bersabda:
” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan”.
Menurut Bapa Suci. Hidup keagamaan seseorang harus dilengkapi dan diiringi dengan hidup spiritual. Hidup keagamaan mencakup tata cara atau aturan yg baku dan mesti ditaati, namun taat dengan tata cara yg ada belum cukup dalam kehidupan harus disempurnakan dengan gaya hidup spiritual yg lahir dari pengalaman akan kasih Allah. Setiap orang dalam hidup bersama tak pernah lepas dari aturan, tatanan, atau hukum yg mengatur agar kehidupan bersama tertata dan memberi bingkai atau jalan agar hidup tidak menyimpang dari rel dan terbingkai dalam kebenaran. Tujuan akhir adalah agar hidup bersama makin harmonis dan adil. Namun manakala semakin maju peradaban manusia, semakin maju pula tingkat kepentingan yang kadang menghalangi orang untuk mudah diatur dalam tatanan kebersamaan dalam suatu masyarakat, atau bahkan dalam tataran bangsa. Konflik kepentingan membuat makna aturan dan hukum bergeser menjadi penghalang untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan bersama. Hingga banyak orang mengalami situasi dilematis ketika tidak ada lagi pilihan yg terbaik dalam menghadapi aturan dan hukum. Yesus dalam sabda hari ini memberikan ukuran baku dalam menghayati hukum yakni belas kasih dan kesetiaan. Belas kasih dan kesetiaan menjadi prioritas pilihan sikap hidup kita. Belas kasih dan kesetiaan adalah dua sikap dasar yang membuat kebaikan tumbuh dan memberi oase bagi masyarakat yg sibuk mengutamakan kepentingan sebagai hukum. Jika seseorang memiliki belas kasih, ia tidak akan mudah ingkar dengan suara nuraninya untuk tetap setia pada kebaikan. Belas kasih dan kesetiaan bersumber dari janin kerahiman ilahi. Saya sebut janin karena pengalaman akan kerahiman Allah bagi setiap orang berbeda dalam pertumbuhannya. Allah menaruh kasih sayang dan kerahiman dalam diri setiap orang itu khas, lewat aneka pengalaman dan sejarah hidup masing-masing. Ada yg mengalami dikasihi Allah begitu begitu besar hingga pelukan kerahiman-Nya nyata memeluknya setiap waktu. Dan pengalaman janin kasih itu bertumbuh dan matang berbuah lebat dalam hidupnya yg terus mampu mengasihi dan bertindak adil sebagai karakter dan gaya hidupnya.
Setiap orang diberi Tuhan pengalaman dikasihi tetapi tidak semua orang mampu menumbuh suburkan janin itu dalam rahim kehidupannya. Pilihlah hati yg makin mengasihi agar hukum yg ada dalam hidup kita makin kita maknai sebagai sarana untuk berbelas kasih dan berkeadilan. Singkirkan kebencian dan kepentingan diri supaya kita mampu menghayati hukum sebagai sarana untuk mengasihi. Mari kita terus belajar mengembangkan janin kerahiman ilahi yg tertanam dalam hidup kita, agar tatanan hidup makin memerdekakan kita utk tetap setia menjadikan hidup makin bermakna karena mengasihi dan bertindak adil.
Contemplating
Mari kita Heningkan seluruh diri kita sejenak, menyelam dan belajar menatap realitas dgn rasa belas kasih .
Actuating
Membiasakan diri hidup dengan kekuatan dari energi yg ditimba dari kerahiman Allah yang berbelas kasih.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hidup dengan belaskasih dan kesetiaan.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg peka, dalam menjalani hidup dengan kekuatan belas kasih dan kesetiaan yang bersumber dari pada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
