SECERCAH HENING
Jumat, 31 Maret 2023
Yoh 10:31-42
“Jejak Kasih”
Saat gigih menenun kasih,
Jiwa tertuju hasrat yg tertatih,
Kebaikan jadi energi yg terlatih,
Pergunjingan jadi saat silih asih.
Lemparan batu goreskan rasa pedih,
Hasrat menyatu lunturkan dalih,
Peluk palang kayu makin gigih,
Penebusan lapangkan jalan silih
Jangan gelisahkan hatimu, jika tindakan baik yg engkau lakukan dengan tulus tidak dikehendaki oleh sesamamu. Meskipun demikian tetaplah berbuat baik dan peliharalah buah-buah Roh yang ada padamu. Relakan jika tetap ada kepedihan kecil di sudut harimu, relakan karena saat itulah Tuhan tengah menenun hatimu yg robek dengan rajutan benang-benang kasih Tuhan agar engkau menjadi pribadi pengampun dan tangguh. Semoga dari tiap kepedihanmu tetap ada kebaikan yang bertumbuh bagi sesamamu.
Mari kita menimba dari kesaksian hidup Yesus, yang ditolak dan akan dilempari batu oleh orang Yahudi karena kebenaran yg dinyatakannya:
Suatu kali orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka:”Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu, pekerjaan manakah di antaranya yg menyebabkan kamu mau melempari Aku ?” Jawab orang Yahudi itu:”Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah, dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah”.
Pertengkaran ini viral pada jamannya, sehingga berujung pada kematian Yesus. Sejak awal orang Yahudi menutup diri akan kehadiran Yesus, sehingga tidak mau mengenal lebih jauh, tidak memaham lebih dalam dan tidak percaya pada kesaksianNya, yg menurut mereka menyamakan diri dengan Allah. Sehingga seheroik apapun hidup Yesus, tidak mampu membuat mereka terkesan, tertarik atau terinspirasi sebagai pengalaman batin pribadi. Jika kehadiran Yesus tidak membuahkan pengalaman batin, maka kehadiran Yesus tidak akan pernah membawa perubahan hidup yg baik. Dan bahkan malah melahirkan perseteruan dalam lemparan batu, tusukan tombak, dan hujaman palu.
Kenyataan batin orang Yahudi pada titik tertentu juga bisa menjadi pengalaman pribadi kita. Dimana kehadiran Yesus bagimu kadang tidak berbicara banyak. Kadangkala kehidupanmu yang penat dengan aneka desakan target hidup dan kerja membuat membuat ruang batinmu untuk Tuhan hadir tergusur. Tak ada lagi kamar Yesus yg tertata rapi di ruang batinmu. Hingga hidupmu terasa tandus, kering, hampa dan kosong, memandang hidup jadi ampang itulah pengalaman “desolasi” saat kekeringan rohani atau saat keterpisahan dengan Tuhan.Meski sebenarnya Tuhan tetap ada disampingmu, namun engkau lempar batu hingga kau jauh dari pelukan kasihNya. Saatnyalah untuk kembali ambil jeda, rasakan hadirNya lagi dalam hal-hal kecil yg bisa engkau lakukan. Sadari, rasakan, dalam nafas segar yg engkau hirup !, rasa damai yg sembunyi di keremangan hatimu, sukacita di setiap bentangan harimu, tetesan air mata di tiap sudut pedihmu, lekatnya dalam heningnya malam, Pengharapan dalam cerahnya pagi. Jangan ragu hatimu, Tuhan ada dan hadir ditiap titian waktumu, datanglah tiap waktu dalam aneka keadaanmu. Ia yang datang dalam kebenaran memelukmu untuk hidup dalam jalan penerimaan. Karena perjalanan salib adalah jalan penerimaan menuju keselamatan.
Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar makin mampu mendengarkan Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kita ubah dan biasakan agar makin matang dalam menghayati tiap moment kehidupan.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dan percaya akan penyelenggaraan Allah dalam hidupku.
Praying
Yesus ajarilah aku mencintai firman-Mu dan terus belajar mengenali dan melaksanakan kehendak-Mu, hingga aku boleh merasakan hadirMu dalam aneka keadaanku dan belajar menerima apapun yg terjadi dalam jangkauan kasihMu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
