Passion

SECERCAH HENING
Sabtu, 1 April 2023

Yoh 11: 45-56

“Passion”

Terjerembab dan terluka,
Jalan konspirasi kian menganga,
Peluk pergunjingan dengan terbuka,
Keluar dari batas zona.

Kasih jadi kualitas yg didamba,
Fokus utk kebaikan sesama,
Terbangkan sikap iri dgn kualitas doa
Bahagia di tepian senja.

Jangan takut untuk menjalani hidup ini, di atas keyakinanmu. Bahwa Tuhan menyertaimu dalam bentangan waktu dan aneka kisah siang dan malam. Hidupmu akan ada saatnya bersuka cita karena lahir, namun ada saat air mata pedih karena kematian, ada saatnya merangkul dengan pelukan hangat, namun ada saatnya mengalami pedihnya sebuah perpisahan. Ada saatnya hingar bingar hidup dalam kesuksesan, namun sekejap harus siap undur diri dalam kegagalan yg sepi. Ada saatnya sibuk bekerja membanting diri, namun sekejab akan lunglai karena menganggur. Semua sisi itu akan bisa dijalani dengan damai dan batin yg teduh, jika kita siap dan memiliki keyakinan bahwa semua adalah fana. Dan hanya Tuhan yang abadi, layak dicari dan diikuti dengan seluruh totalitas (passion) .
Namun hal yg berbeda bisa juga terjadi di luar scenario manusia, seperti dikisahkan dalam Injil hari ini. Kayafas, Imam besar pada tahun itu berkata kepada orang Yahudi:

“Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa”. Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat,bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai berai.

Sepintas sedih rasanya merenungkan perikop Injil hari ini. Bukan karena kematian yg segera akan dirangkul Yesus, tetapi sebab dari kematian itu yg mengajak kita untuk selalu aware sadar diri, bahwa karena sebuah pemberian diri yg totallah kematian Yesus harus terjadi. Dirikulah yg layak mati, karena sering bermental pecundang dalam hidup. Dalam dialog awal pada perikop Injil ini dilukiskan bahwa pembunuhan itu terjadi sebagai konspirasi orang Yahudi yg merasa tidak aman atas karya Yesus yg membuat seluruh bangsa percaya dan diselamatkan oleh kuasa Tuhan. Zona kenyamanan hidup berdosa didobrak oleh kehadiran Yesus yang hadir dengan passionnya. Dan ketika kematian Yesus tak terelakkan lagi, passion itu makin sempurna. Namun tak juga membuat orang Yahudi makin bertobat. Tapi bagi Yesus Ia makin tahu bagaimana rasanya di tolak, dihina, di singkirkan, dikhianati, dihancurkan dan terakhir bagaimana rasanya dibunuh. Dengan demikian Yesus sempurna dalam merangkul, memeluk, mencintai sampai terluka dengan tuntas. Ketika Yesus dengan penebusan itu tahu bagaimana rasanya sakit, menderita paling terberat dari semua penderitaan yg ada. Masihkah kita ragu untuk tetap percaya pada penyelenggaraan Tuhan dalam hidup ini ?.
mungkin saat kita sakit, gagal, jatuh dan aneka kepedihan hidup yg lain. Dengan passion dan totalitas diri Yesus inilah, saatnya kita makin terpikat untuk setia, dan mencintai Tuhan dalam hidup yg makin baik, benar, santun dan kudus.

Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar makin mampu mendengarkan Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kita ubah dan biasakan agar makin matang dalam menghayati tiap moment kehidupan dengan passion yg dalam.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dan percaya akan penyelenggaraan Allah dalam hidupku.

Praying
Bapa ajarilah kami mencintai firman-Mu dan terus belajar mengenali dan melaksanakan kehendak-Mu, hingga kami layak menjadi murid-Mu yg setia, dan total dalam pemberian diri hingga kami beroleh keselamatan, karena Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *